Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Januari 2017

Sekeras tanggung jawab


sumber  : pekerja keras 

  Siang ini sangat terik, matahari terasa menyengat tubuh ini. Kayuh sekopku harus tetap jalan, menurunkan pasir dalam bak truk ini, sendirian. Pantang minum sebelum, semua pasir turun. Keringat ini terus mengalir, dan terus kuusap dengan baju. Kemudian ku peras dan kuusap lagi leher ini. Belum sampai separuh, celana yang kukenakan basah kuyup tak karuan. Sekalipun badan telah ku seka dengan kaos putih yang bawa, tetap saja tak mampu menahand derasnya keringat. Tak masalah, aku tidak sedang mengeluh. Fani anakku harus tetap makan, istriku harus bisa memasak esok pagi. Aku sendiri tak ingin bercerita tentang ini, andaikan istriku tau derasnya keringat ini, mungkin tak akan tega makan dari hasil pekerjaanku.
Kurang tiga sekop lagi selesai, kuseka wajah yang bercucuran keringat ini. kemudian kuselesaikan tiga sekop terakir.

“Sudah selesai pak, “ aku lapor pada pak supir.

“Oh, ini mas upahnya”. Pak sopir itu memberikan beberapa lembar uang kepadaku.

  Dan masih ada banyak truk yang harus kuselesaikan siang ini, ikut menaikan dan menurunkan pasir dari truk pak joni. Tak banyak, Tapi ini cukup untuk beli susu si fani. Untuk dapur aku harus mencari lagi. Dengan senang hati kuterima job dari pak budi, tukang beras di pasar seberang. Jadi, jika sore tiba, aku segera berangkat ke pasar, bukan untuk belanja atau shoping lah istilahnya. Setelah selesai dengan pasir aku bersih diri solat ashar di masjid sebelah penampungan pasir. Meluncurlah aku menuju pasar sebagai kuli panggul beras. Jika siang dengan pasir, sore ini harus dengan beras. Tubuh ini tak bisa lelah. Untunglah istriku ini pengertian, setiap aku pulang. Dia pasti menawarkan diri untuk memijat tubuh ini. Rasa lelah bahakan tak pernah ada ketika melihat fani senang dengan kepulanganku. Aku baru mengerti “ mungkin inilah rasanya menjadi lelaki seutuhnya”.

 Alhamdulillah, istriku ini paham. Tubuh yang peluh dipijat, meski terasa sakit aku hanya diam. Menyembunyikan rasa sakit. Aku memang tak pernah cerita tentang pekerjaanku pada istriku. Aku hanya bilang aku berangkat bekerja, dan aku berpesan “bunda, jangan tanya kerja ayah apa. bunda hanya boleh tanya halalkah yang ayah bawa, doakan ayah” hanya itu. Dengan meninggalkan senyum fani, aku berangkat. Entah apa yang akan kulakukan nanti, yang paling penting yakin.

 Tapi kini aku mengerti, mungkin ini adalah jalan Tuhan. Atau jawaban dari doa-doa istriku, atau mungkin risky untuk si fani anakku. Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang  atas semua risky yang kuterima. Tuhan yang lebih mengerti tentang keadaan hambanya, akan aku jalani, jalan ini.

Inilah keluargaku, aku yang akan bertanggung jawab terhadap anak istriku !!” Tegas mas aris ketika bercerita pada penulis.


Kisah inspiratif :
Mas aris

04/12/2016 
Cerita hikmah motivasi

Rabu, 30 Desember 2015

PPDS

Foto Istimewa
Pondok pesantren Darussalam (PPDS)_Keputih Surabaya , menjadi tempat yang paling nyaman kedua setelah rumahku di kampung halamanku. Tak banyak orang yang tau tentang tempat ini, tak banyak orang yang mau pula tinggal di tempat ini. Selama disini aku menyaksikanya sendiri, hampir beberapa orang masuk dan kemudian pergi tak kembali. Mungkin ini adalah anugerah bagiku yang aku sendiri belum tau mengapa aku betah dan sangat rindu pulang ke pondok selepas kuliah. Disini ada orang-orang pilihan, disini ada orang-orang yang berbeda dari biasanya . Aku sangat sulit menjelaskan tempat ini. Mendefinisikanya saja hal yang tak biasa menurutku... ini tempat apa ya ?? selalu sama pertanyaanku..

Aku menulis ini ,dengan duduk menyendiri di pojok lantai 3 dengan bersandar pada pagar hitam pembatas pengaman tempat orang berdiri, sisi ini memang paling tepat untuk mengamati semua keadaan di lingkungan pondok pesantren Darussalam. Tepat arah jam 12 dari sisi utara kupandangi , teman-temanku ada yang asyik bermain dengan piranti kecilnya (gadget canggih), mereka duduk bersama melingkar, entahlah apa yang ada ditengah-tengahnya, tak terlihat dariku saat ku coba memandang. Dekat dengan mereka temanku yang lainya sedang asyik memasak mie isnstant dan kopi bubuk , mereka tertawa-tawa karena alat pemanasnya yang tak kunjung bisa dioperasikan .hahaha... aku jadi ikut tertawa ringan.

Kulihat ke lantai bawah, si Ari salah seorang santri yang sedang asyik mengucek, memeras dan menjemur pakaian, dia sedang mencuci. Wajarlah setiap hari libur kuliah seperti ini, tempat penjemuran pakaian selalu ramai baju-baju para santri yang ingin bersih. Tampak pula seorang santri yang sedang piket membersihkan halaman dengan sapu panjangnya (red: sapu kerik). "krakk krakk ,krakkk" , begitulah kudengar dari lantai tempatku duduk ini. Kutengok lagi, si Ari yang belum selesai jemur pakaian di bawah, sudah ada lagi mas maksum yang mencuci baju di kamar mandi. "wah, mana cukup tuh jemuran", dalam hatiku bergumam..

Aku coba berdiri , masih di tempat yang sama, kucoba menengok kamar-kamar terdekat dari tempatku berdiri, terlihat teman-teman yang sedang tidur lelap sekali, tampak dari bunyi dengkuranya "krookk...krookk" , seperti suara mesin blender jus buah di sebelah rumah. Bahkan suara alarm seseorang yang berbunyi pun tak terhiraukan, tidak ada yang terbangun seorang pun. Merasa kasihan melihat teman-teman yang asyik tidur, aku pun bergegas menuju alarm tersebut dan mematikan bunyi liarnya.

Bergegas aku kembali menuju tempat duduk tadi, di pinggir pagar hitam dengan duduk lesehan. Aku lanjutan tuk menulis kembali, pernah aku mempunyai perasaan yang sama dengan temanku yang kuajak mondok dulu, yang kini telah pergi meninggalkan tempat ini. Kini dia berubah tak seperti seharusnya. Tenang kawan pembaca ini pondok laki-laki semua.. hahahaa

Sedikit bercerita saat pertama aku ada di tempat ini, Sebelum tidur aku berdiri memandangi orang-orang yang telah tidur dahulu, tampak pulas menikmati malam, kuhitung jumlah penduduk satu kamar dengan jari,13 orang +(plus) aku. "waahhhh jumlah yang banyak untuk satu kamar 5x4 ini" , itu yang terpikir olehku.Aku tak bisa tidur malam itu. Kupejamkan mata, tetap saja tidak bisa, tak beralaskan selembar tikarpun, tak ada kasur seperti kos-kosanku dahulu, tak ada penerangan yang secerah kamarku dirumah. Ditambah suara nyamuk yang mengitari telingaku, " ngiiiinggg ,ngiiingggg, ,ngiiing..." lengkap sudah penderitaan malam itu. Sisi atas dan sisi bawah badan semua jadi santapan nyamuk yang tak hirau dengan bau autan(Red: pengusir nyamuk). Jangankan mata terpejam, tubuh diam pun tak mendapat kesempatan. " plak ,plak.. " tangan kanan dan kiri ku ayunkan, tapi tak satupun nyamuk kutagkap. Di tambah dinginya malam yang panjang tak ada satupun yang hirau denganku, karena orang di sekelilingku telah tidur dengan nikmatnya.

Kuambil jas lab berwarna ungu yang biasa kugunakan praktikum di kampus, kain jas ringan itu kugunakan membungkus kepala agar tak terdengar lagi suara-suara nyamuk yang mengitari kepalaku. Sambil kupejamkan mata dengan pelan-pelan hatiku berbisik, " Ya Allah, jangan jadikan hanya karena perkara semacam ini, membuatku luntur semangat untuk mencari (ridho) Engkau ,Ya Rab.. ". Sesaat setelah aku berdoa ,tidurlah aku dengan pulas.
Baru saja merasakan tidur, bunyi keras dari pintu yang digedor oleh ustad dengan sebuah tongkat papan membuatku bangun dengan kaget, " DOKK, DOKK, DOOkk..." . Semua santri bergegas berlarian ke kamar mandi, "Ada apa ini masih malam ribut sekali" pikirku dengan polosnya. Ternyata memang seperti itu alarm pagi bagi para santri.

Sudah satu tahun lebih aku berada di tempat ini, sekarang tak ada lagi rasa segan terhadap apapun yang telah ada, tidur tanpa tikar, tanpa bantal dan tak beralas pun jadi. Dengan nyamuk pun sudah biasa, tidur berdesak-desakan semakin seru supaya sang nyamuk bingung memilih darah mana yang akan dihisap, itu kami anggap cara mengelabuinya. hahaa.

Sisi pondok pesantren yang kental dengan nuansa Kekeluargaan, Kesederhanaan, Semangat dan Keta’dziman terhadap guru mengajarkanku banyak hal. Segi kesederhaan dan saling berbagi mungkin tak akan kudapatkan di tempat lain, disini aku menemukan hal bahwa" manusia tak ada gunanya, jika tak menjadi manfaat bagi semesta alam". Ada banyak hal yang mungkin tak mampu kutulis disini, namun aku meyakini pondok pesantren adalah ladang terbaik belajar untuk kehidupan dan kematian. Alhamdulillah, aku bersyukur masih diijinkan Allah untuk hidup di tempat ini, tempat yang pernah kuidam-idamkan, tapi entah kapan di masa lalu. Disini aku mendapatkan ketenangan, yang terkadang membawaku berandai-andai "Andai aku diijinkan bercita-cita kembali, pasti aku memilih ingin menjadi kyai yang hidupnya tenang tak berfikir masalah duniawi". heheehe.



Sumber :
Kisah iNspiratif Sugitcakgit.
#GUYU(B) SANTRI hikmah kisah motivasi tauhid

Minggu, 30 Agustus 2015

Berikan yang terbaik


Sebagaian besar dari kita sangat sering melakuakan hal-hal yang mungkin menurut kita baik, namun tak pernah dihargai atau tidak mendapat balasan. Bagaimana tidak menjadi beban pikiran, jika kita melakukan sudah sangat serius, tapi ternyata diagap bergurau. Mungkin seperti ini maksud nasehatnya.

Saat kau berbuat baik namun tidak pernah dihargai, maka tetaplah berbuat baik.

Saat kau melakukan pengabdian namun tidak diperhatikan, maka tetaplah mengabdi.

Saat kau berusaha memperbaiki situasi namun tidak diterima, maka berusahalah menerima.

Saat kau memberikan perhatian namun tidak diperhatikan, maka tetaplah jadi pemerhati.

Saat kau berusaha menasehati namun nasehatmu tidak dihiraukan, maka teruslah menasehati.

Saat kau berusaha mencintai namun tak terbalas, maka tetaplah mencintai.

Saat kau memberikan keyakinan namun tak dipercaya, maka tetaplah menjadi yakin.

Meski saat kau berbaik hati dan esok dilupkan, maka tetaplah berbaik hati.

Meski saat kau jujur namun engkau difitnah, maka tetaplah menjadi jujur.

Bahkan saat kau mempercayai namun dikhianati, maka tetaplah menjadi percaya.

Kita tidak pernah tau sikap mana yang akan mendapat balasan yang terbaik dari manusia. Tapi alangkah menyakitkan hati jika balasan itu kita harapkan karena melakukan kebaikan. Sementara orang lain sebenarnya tidak pernah bisa bersikap seperti yang kita harapkan. Berhusnudzon itu lebih baik kawan, tidak akan menambahi beban pikiran.

Tetaplah lakukan semua kebaikan, meski dengan balasan yang amat menyakitkan.Tetaplah lakukan kebaikan dan berikan yang terbaik. Pada akhirnya kita pasti mengerti, bahwa semua itu bukanlah hubungan antara kita dengan manusia lainya. melainkan ,hubungan kita dengan Allah SWT.

Ikhlaslah, tetaplah bersyukur.


Sumber :
Kisah inspiratif sugitcakgit
Diketik: 31 Agustus 2015
hikmah motivasi puisi

Minggu, 16 Agustus 2015

Pulang

             Beristirahat sejenak , duduk di toko pinggir jalan , merupakan cara terbaik jika lelah melakukan perjalanan panjang, banyak sekali fasilitas istirahat yang kini menjadi brand tiap pertokoan ,sebut saja Aflamart , Idnomart dan sejeanisnya. Ya , kini aku sedang duduk di sebuah kursi yang menjadi fasilitas toko tersebut setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh. Ini memang bukan kebiasaan baruku dan bahkan aku tak tau mengapa aku harus  beristirahat di toko ini.
Seseorang tiba-tiba menyapaku setelah keluar dari pintu toko. 

“ Boleh ikut duduk mas ? “ dengarku
iya mbak silahkan .” jawabku
duduklah si mbak itu disampingku. Dengan menawariku segelas air minum.
“ Iya mbak makasi , saya sudah bawa sendiri ini .“ jawabku dengan menolak secara halus.
 Aku jadi diam menikmati semilir angin sambil melihat lalu lalang kendaraan , ini hiburan sendiri bagiku.
 Sambil basa basi aku berusaha mengajak ngobrol orang disampingku ini ,merasa ndak enak  karena dia telah menawariku segelas minuman tadi.

Habis pulang kerja mbak ? “ tanyaku.
“ iya mas , ini habis pulang kerja .“ jawabnya lirih
“ kerja apa mbak ?” sahut pertanyaanku
“ ini mas jadi guru anak-anak di TK Harapan Bunda , masnya kerja juga ?” jawabnya
“ ndak mbak saya masih kuliah , ini dedeknya ya mbak ?” tanyaku lagi
“ iya mas , jawabnya singkat karena dia memanggil dedeknya yang lari-lari.
deekk ..sini dekk.. , nanti jatuh loo.. “  cara dia memanggil dedek kesanyanganya itu.
“ dedek Siapa  dek namaya ?” tanyaku
“Aziza om” jawabnya lucu , jadi senyum sendiri. hemmmmb

           Kemudian kami mengobrol panjang lebar , seolah sudah kenal lama dengan beliau. Kupanggil beliau karena bagiku, guru adalah orang terbaik yang hidup di dunia. Seorang guru mengajarkan manusia menjadi manfaat dengan ilmunya. Meskipun dia tampak masih sangat muda. Aku sangat menghargainya. Apalagi dia seorang guru TK yang menurut cerita banyak orang sangatlah sulit mendidik dan memberi dasar kepada adik-adik yang masih kecil.
Obrolan kami pun panjang lebar , saling mengisi dan kesana kemari bertukar pikiran. Dan sampai aku menemukan satu poin dari ucapanya ,
“ Ternyata bekerja itu sangat melelahkan , saya sendiri sebenernya ndak suka bekerja ,  jadi saya anggap ini sebagai hiburan saya , mengamalkan ilmu dan mendidik anak-anak terutama anak laki-laki supaya benar-benar menjadi imam yang bertanggung jawab ketika wakunya”.
Mendengar hal itu terasa tertegun dalam pikiranku, bagiku ini merupakan ungkapan hati seorang perempuan yang sebenarnya. Seorang perempuan akan merasa lelah ketika harus banyak membagi waktunya. Dan poin keduanya kusimpulkan setiap perempuan pastilah beharap pada seorang laki-laki yang bertanggug jawab untuknya.

          Tanpa ragu aku terus mengajaknya berbicara , seperti halnya kakak adik , atau adik yang berguru pada kakaknya dan kakaknya yang semangat menghargai setiap detail pertanyaan adiknya. Hingga dedeknya ini merengek pada si mbak.

“Kak ayo pulang , ayo pulang .. “ pintanya dengan berekspresi merengek.

dalam hatiku bergumam “wah ini dedek panggil ibunya koq kakak ya, apa jangan-jangan si mbak ini kakanya.”
belum sempat bertanya mereka sudah bergegas pulang dan berucap ‘‘kami balik dulu ya ,  Assalamukaikum... “
“Iya , waalaikumslam , hati-hati di jalan... “ jawabku agak lantang karena jarak parkir dari tempat duduk yang cukup jauh.

         Tinggallah aku sendiri duduk di tempat ini , dan berfikir ulang tentang hal-hal yang telah kami diskusikan tadi. 

#Dan pembaca silahkan simpulkan sendiri .. hehe

Sumber :

 kisah inspiratif by sugitcakgit
23 juli 2015
hikmah kisah

Jumat, 07 Agustus 2015

MENUKIL HIKMAH DARI SETIAP KISAH





Adakah kawan yang berfikir dari setiap masalah lalu lalang terus berganti memilki makna yang tersembunyi.

Adakah kawan yang befikir dari setiap godaan memiliki tujuan yang belum tentu kita dapat memaknai.

Adakah kawan yang berfikir dari setiap kesenangan terselip kata ujian yang sangat sulit tuk  dimengerti.

Adakah kawan yang berfikir dari setiap ucapan terhadap orang lain akan membekas tanpa kita sadari.

Adakah kawan yang berfikir dari setiap tindakan terhadap orang lain berdampak pada pembentukan karakter pribadi .

Adakah kawan yang berfikir bahwa dari setiap tulisan yang terbaca oleh ribuan massa akan membentuk sebuah jati diri.

Adakah kawan yang berfikir dari setiap perjalanan memiliki segenggam jawaban yang kadang tak kita temui.

Adakah kawan yang berfikir dari setiap pandangan mata terjadi karena adanya hal yang harus dipahami.

Adakah kawan yang berfikir dari setiap pertemuan dengan tiap orang memiliki rahasia yang wajib dipelajari.

Adakah kawan yang berfikir dari setiap keseharian kita akan membentuk jatidiri.

Ayolah kawan mulai berfikir. Tanyakan pada dirimu !!
Mengapa kamu membaca tulisan ini ?
Mengapa kamu duduk di tempat ini ?
Mengapa kamu harus bertemu dengan orang itu ?
Mengapa tanpa sengaja kamu mengalami hal ini dan itu ?
mengapa kamu ...  mengapa aku mendengar kalimat ini dan itu ??
Mengapa dan teruslah membuat pertanyaan untuk dirimu sendiri ...
Ayo sama-sama kita hayati makna setiap detik yang kita alami...

Meresapi  arti diri memang teramat sulit , terlebih mengambil makna dari setiap keadaan dan kejadian. Banyak manusia yang lalai dalam mengambil hikmah dari setiap Kisah. Hingga lupa akan rasa dan perasaan untuk selalu bersabar dan bersyukur. 
Terkadang memang benar, bersyukur itu satu tingkat diatas sabar.  Ayo belajar bersyukur :D


Sumber :
Kisah inspiratif by sugitcakgit
Ditulis 7 agustus 2015
Cerita hikmah

Senin, 20 Juli 2015

Inikah Hari Raya ??


       Kini aku duduk ditepi jalanraya menunggu seorang teman yang pulang dari daerah rantaunya, si Jaka . Aku duduk di kursi dekat kantor pos berwarna oranye yang berdiri megah karena baru saja direnovasi. Mataku tak bisa berhenti kekanan dan kekiri mengikuti  lalu lalang kendaraan. Jalan raya malam ini sangat ramai , inilah akhir ramadhan. Kemudian semua kendaraan tiba-tiba  terhenti , “ Wah kenapa lalu lintas terhenti ??“ tanyaku dalam hati. Ternyata ada segerombolan adik- adik membawa obor berkobar , ditemani ibu bapak dan mungkin kakak”nya sambil melatunkan takbir.

“Allahu Akbar , Allahu Akbar , Allahu Akbar.....”

Takbir keliling , itulah yang sedang mereka lalukan. Akupun ikut senang melihatnya , mereka sangat bersemangat bertakbir, bertahlil dan bertahmid seperti tak ada beban. Hingga lidah ini tak mampu menahan mengkuti lantunan takbir mereka. Rombongan takbir keliling itu akhirnya terlewat begitu saja. Sambil bibir terus berucap mengikuti takbir.

                              “Allahu Akbar , Allahu Akbar , Allahu Akbar.....”

Dan mata ini kemudian tertari pada sebuah toko yang sangat ramai pengunjungnya di seberang jalan. Pemuda- pemudi  lebih banyak jumlahnya dibandingkan seorang yang telah berkeluarga.  mereka pun tak kalah semangat seperti  adik-adik yang bertakbir keliling tadi , hanya saja mereka bersemangat memilih baju dan souvenir cantik untuk lebaran . Ada yang memborong banyak sekali barang , mulai dari atasan hingga bawahan. Ada yang hanya sibuk memilih tapi tak ada yang sesuai. Ada juga adik kecil yang menangis meminta kepada ayahnya baju baru , padahal dia sudah membawa baju barunya . “hehehemmmmb ..... “ hati ini bergumam.

Kemudian aku menengok jam tanganku , ternyata sudah pukul 21.00 ( sembilan malam ) . tiba- tiba seorang kakek lewat di depanku dengan becak tuanya. Dia sepertinya terburu –buru pulang  dan bersemangat sekali untuk pulang. Tampak dari raut muka yang ceria dan cara mengayuh pedal yang penuh kekuatan. “wuzzzhhh .. wuzzzh .. “
Di depan becaknya pun terdapat jajanan khas ramadhan yang terbungkus rapi dengan kresek warna merah , tampaknya kakek ini habis dapat bingkisan ramadhan. “ Alhamdulillah ,ikut senang.”  jadi senyum- senyum sendiri.

 Kemudian senyumku terhenti . Aku menengok ke atas langit , langit sangat cerah malam ini , bintang- bintang tak ada yang ingkar dengan cahayanya. Dari sinilah aku mulai berfikir panjang. Bertanya – tanya sendiri dan kujawab- jawab sendiri. Benar , ternyata malam ini takbir , dan aku masih diberi kesempatan merayakan kemenangan , aku mulai sedikit berhayal menanya –nanya sudut-sudut hati , kenapa aku melihat tiga kondisi sekaligus malam ini. Adik- adik yang semangat bertakbir ,pemuda-pemuda yang berbelanja , dan kakek renta yang mengayuh becak tuanya. Ini keadaan yang tak biasa , aku yakin Allah sedang menyampaikan sesuatu untukku malam ini. Aku mulai mereka-reka apa yang sedang terjadi terhadapku , pertanyaan-pertanyaan pun mulai berjubel dalam pikiranku ,hingga aku sendiri mulai kebingungan karna tak tau jawabnya , dan air mataku tiba-tiba menetes. Karena  pertanyaan yang menurutku sangat berat , Apa aku harus jadi seperti anak kecil  ,pemuda ,ataukah kakek tadi ?? apa yang kudapatkan di ramadhan ini ?? apa hanya sekedar baju baru ?? bingkisana ?? Inikah hari kemenangan ? aku sangat kebingungan tentang hal itu.

Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku “plaaakkk,.... “
“Hee nglamun aja,  sudah lama kau menungguku broo .... “  ,aku menoleh kaget. Ternyata Si Jaka sudah datang.
“ehhh kamu Jak, ngagetin aja ... belum lama baru juga 5 menit “ jawabku .
“Yasudah , Ayo dah pulang , sudah kangen ibuku aku “ kata si jaka.
“Okk siapp , kita cuzzz “ ,jawabku segera .

Dan akhirnya kami pulang, sementara aku  belum menemui jawaban.  Dalam pikir hanya berkata “sangat simpel sekali , Nanti malam akan ku tanyakan pada Tuhan. Aku pasti menemukan jawaban.”
Kemudaian si jaka mengajaku ngobrol kesana kemari saat dia ku bonceng, dan pada satu perkataan yang sangat ku ingat “ aku tadi ketemu orang bro.. dia cerita banyak tentang hari raya , spertinya dia ustad  dan bilang gini “Semua hari yang tidak kita gunakan maksiat kepada Allah ,adalah hari raya yang sebenarnya ,Begitulah kata sebagian sahabat Rosul. “  begitu broo  katanya.
Tanpa ku tanggapi , karena aku berfikir , ya itulah jawabanya.


Sumber:
Kisah inspiratif kemarin  malam.
sugitcak
19 juli 2015


Cerita hikmah islam

Selasa, 22 Oktober 2013

Catatan

Jadikan cara awal mengawali esok hari , kumulai mencatat tulisan tentang rencana pandangan di esok pagi.

pertama "ku tulis" , hanya ada tulisan yang tak kumengerti maknanya , tapi ,kubiarkan saja . selama tak ada yang mengetauhuinya . Mungkin ini hanya rahasia kecil yang dapat pula  dibesarkan , yang pasti tak mumpu ku ungkap dan tak mungkin pula ku mengungkapkanya .

kedua "ku pahami " , kuanggap tulisan biasa saja , tapi sedikit kurenungkan , jadilah sebuah permasalahan , dan apa-apa yang kupikirkan terlampau memanjang lebar .

ketiga "ku bertanya"" , bukan apa-apa sebenarnya , bukan pula permasalahan yang sangat mendasar , hanya saja sidikit merongga ke dalam perasaan , dan tak apalah . mungkin ada yang berubah, dan mungkin dan mungkin dan pula mungkin.

keempat "ku jawab sendiri" , mungkin benar saja pernyataan ku , telah berubah , ya hanya itulah. seorang sahabat yang bisa mengerti pun sama , telah berubah . dan kurasa tetap akan jadi rahasia ,selamanya dari tulisan pertama.

Biar bagaimanapun setiap tulisan memiliki makna , secara tersurat ataupun tersirat . dan akupun takkan berhenti tuk menulis sebagai hal yang tersirat.


salam syukur ...
sudahkah bersyukur di setiap salam ...?? :)


hikmah kisah

Rabu, 16 Oktober 2013

GORESAN ll

         Kembali , ku angkat kata Goresan , sebagai penyambung tulisan di awal , namun kini bermakna beda dari sebelumnya, jauh benar makna yang mendasar , tapi tetap dengan kata goresan .

       Beda , itulah yang seharusnya , antara hari esok dan hari sebelumnya , prinsip dasar setiap manusia memang , tapi tak banyak yang mampu melakukannya. Bercerita tentang sebuah goresan ,banyak manusia berpersepsi beda, antara satu dengan yang lainya , ada yang memaknai sebagai terserangnya perasaan ,ada pula yang  memaknai sebagai keharusan .


     Tak usah berpanjang lebar, intinya jangan terpaku pada goresan hitam yang kita dapatkan , hanya saja kita fokuskan membuat goresan pada selembar kehidupan kedepan . yaps , seperti itulah seharusnya, tak usah berfikir panjang, Lakukan dan Lupakan semua Goresan Hitam.


salam syukur. . . .
Sudahkah bersyukur di setiap salam . .. ? ? :)
hikmah

Selasa, 15 Oktober 2013

GORESAN

        Sedikit pernyataan dan juga peraasan ketika kumulai menulis tentang sebuah goresan, dimana suara hati benar-benar menjadi ungkapan yang tak pelak mengungkap sebuah kenyataan . Bingung memang , tapi aku tak peduli . banyak rasa yang bergurau menyelip satu per satu dalam sebuah ungkapan , sementara tak kutemui titik tepat untuk mengungkapkanya.

        Bingung , itu hanya kata utama yang terpojok di awal kata , dan ku tau ,seorang sahabat telah menulis berlembar bait ungkapan hatinya. tapi ,aku tak mampu sepertinya . ya itulah nyata , ketika biru, hitam,bahkan biru hitam , dan abu-abu menjadi sebuah pilihan , antara nyata ataukah hirauan belaka .terpaksa aku mengikuti aliran saja .

      Tapi ,itulah goresan , goresan diselembar putih yang akan terungkap nantinya , dan aku percaya tak ada ungkapan yang tak bermakna .


bersambung . . . .


salam syukur ...
sudahkah bersyukur di setiap salam .. ??  :)



hikmah

 

We are featured contributor on entrepreneurship for many trusted business sites:

  • Copyright © CakSugit Note'S 2015
    Distributed By My Blogger Themes | Designed By Triyono Sugit