Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 April 2016

Sebening Embun

gambar embun 

Aku menitipkan sebuah surat terlipat dengan tetesan air mata. Surat yang tertulis oleh saksi malam, dan dinginnya malam saat musim kemarau silam. Kutulis perlahan sebagaimana peremmpuan mengungkapkan perasaan. Aku memang hanyalah perempuan diam yang hanya bisa menunggu ungkapan dari sesosok laki-laki dewasa yang siap menjadi imam. Tulisan ini tak ubahnya perasaan yang tertahan, atas sebuah rasa kesal pada seseorang yang benar kuharapkan. Bait katanya kuungkap sangat ringkas dengan pilihan kata khusus sangat bagus. Meski perbendahaaran kata yang sangat sederhana, aku mencoba menuliskanya dengan sangat sempurna. Setidaknya semua ini bisa mewakili perasaan yang diam.

Aku tidak pernah membandingkan laki-laki manapun, dari segi apapun. Baik kaya, terpandang, berkedudukan bahkan bangsawan sekalipun. Harapanku hanya Akhlak yang bisa bertanggung jawab, yang menjadi pertimbangan dalam hidupku. Mau mencukupi kebutuhanku, bukan keinginanku. Mau menyaksikan kelahiran putra pertamaku dan memberikan adzan untuknya. Aku hanya sedang bersedih, sebagai seorang perawat seringkali aku menyaksikan sendiri kelahiran seorang bayi oleh ibu tanpa ditemani sang suami. Bagaimana perasaanya sang ibu, saat menahan kesakitan setengah mati tapi sang suami tidak ada disampingnya. Tapi mau bagaimana lagi , itu hanya ungkapanku , ungkapan ini tak pernah bisa mewakili perasaan orang lain apalagi sang ibu yang sedang melahirkan bayi. Meski terkdang ku anggap telepon adalah hal yang bisa mewakili, tapi aku rasa itu tidak mungkin bisa. Sebagai seorang wanita mungkin sudah seharusnya memahami jika memang itu yang akan terjadi padaku suatu saat nanti meski aku sendiri sangat tidak ingin itu terjadi.

Aku sudah sangat sering mencari berita, tentang bagaimana menjadi seorang ibu. Buku demi buku kupelajari, tak jarang aku pun belajar masak melalui resep-resep yang ada majalah-majalah, dan resep dari handphone. Bukan hanya itu, gadget canggihku ini pun tak pernah berhenti mengikuti tulisan-tulisan mengenai problematika keluarga. Memang sangat banyak sekali ternyata, tak jarang pula kualitas bacaan-bacaan yang kupelajari membuatku miris, mulai perselingkuhan, percerian, hingga dampak terhadap anak. Aku mencoba memahami, kesiapan diriku memang sangat kurang dan aku akan terus belajar. Biasanya ibu pun kuajak bicara tentang permasalahan-permasalahan berkeluarga. Ibu selalu menjadi juara dan guru terbaik dalam semua problematika. Barangkali hanya ibulah yang mampu memahami perasaanku dan persaan wanita yang sesungguhnya. Ibu memang bukan perawat sepertiku, saat aku telahir ayahlah yang mengadzani diriku. Aku sangat bahagia mendengar cerita itu.
 
Aku jadi ingat pelajaran ketika duduk di bangku Madrasah dulu. Kala itu guruku menerangkan bahwa Ucapan seorang ibu adalah doa yang sangat manjur, selaian itu guruku pun bilang jika ucapan seorang laki-laki yang meminta cerai (tidak dalam bercanda) satu kali maka dihukumi talak satu, jika dilakukan tiga kali maka sang istri bukan lagi bagian dari sang suami. Namun jika sang istri yang menyatakan cerai pada pengadilan dengan beberapa syarat, maka suami istri haruslah berpisah.  Dari sini saya belajar bahwa ungkapan laki-laki tak pernah bisa seberat ungkapan seorang wanita yang sesungguhnya. Hal inipun sudah aku buktikan ketika masih kuliah dulu, suatu ketika aku bertemu dengan seorang bapak-bapak yang kukenal ketika aku masih SMA dengan maksud berbasa-basi aku bertanya " sekarang berapa putranya pak ?" beliau malah menjawab dengan tertawa " putra dari istri mana dulu ?? haha". Padahal aku tau sendiri istrinya hanya satu, Tak hanya sekali ini aku mencoba bertanya seperti itu pada bapak-bapak dan jawabanya hampir selalu sama. Namun berbeda dengan ibu-ibu, yang ketika ditanya mereka akan langsung menjawab dengan apa adanya. Ya itulah perempuan selalu lebih dewasa sebenarnya, hehemmb. Ibu pernah bilang kepadaku bahwasanya laki-laki itu hanya butuh dipahami sebagaimana anak kecil sehingga dia akan tampak dewasa dan gagah perkasa. Barangkali film yang pernah ku tonton yakni Tenggelamnya kapal Van der Wijck adalah gambaran kerapuhan seorang laki-laki yang sebernarnya. Maaf, bukan berarti aku mengatakan semua laki-laki seperti itu. hehemb

Surat yang kumaksud adalah doa yang selalu terlipat diantara petang dan pagi. Yah, aku sendiri berusaha mengungkapkan pada Tuhan dengan air mata agar tak ada yang bernasib sepertiku ini, tak ada yang kusakiti dan kita semua akan bahagia. Aku hanya terinsiprasi dari ibu yang setiap malam tidur bersamaku ketika aku kecil dulu karena ayah yang bekerja shift malam. Kulihat ibu berdoa sejadi-jadinya untukku dan keluargaku. Aku hanya berusaha diam sambil berpura-pura tidur kala itu. Mungkin air mata ibulah yang sebening embun, begitupun air mata wanita lainya. Sebagaimana embun yang hanya bisa ditangkap oleh dedaunan yang tak kaku. Semakin tidak kaku suatu daun, maka disanalah embun akan berkumpul dengan lebih banyak. Ungkapan itu mungkin bisa kita pahami, sudah seharusnya seorang laki-laki itu tidak kaku dan juga tidak lemas untuk memahami embun yang bening.



Diketik 26 April 2016
Isnpirasi 
Cerita kisah

Kamis, 07 Januari 2016

Warkop Setia pun Tak Setia

Gambar 
   Sore ini mendung sekali, tampak awan bergulung-gulung berwarna hitam di sejauh aku memandang, dan gerimis kecil mulai berdatangan. Aku yang berdiri di teras masjid Assa’adah memandangi orang-orang berlarian kecil menerjang gerimis setelah sholat ashar berjamaah, ada pula adik kecil bergandengan dengan sang ayah yang berlari dengan pelanya, anak itu tertawa menikmati gerimis sementara sang ayah yang menggandengnya tak henti-hentinya berucap pada anaknya "Ayo diik,dilihat jalannya". namun sang anak tak menghiraukanya, dia tetap asyik berlarian kecil memandangi langit yang meneteskan gerimis sambil tertawa-tawa. "Hemmbb, repot juga ya jika jadi sang ayah" gumamku dalam hati.

   Akhirnya aku pun memutuskan menerjang gerimis, sembari menjinjing sarung dengan tangan kiri dan tangan kanan memegang kopyah agar tak basah, berlari kecil kulakukan dengan berhati-hati. Sampailah aku di asrama pondok, dengan baju bagian pungguh sedikit basah. Aku segera menjereng baju dan berganti dengan baju yang kering. Kuamati melalui cendela gerimis telah reda, "yaahh gerimisnya slesai" ucapku agak kesal. Aku menengok ke langit, langitpun masih hitam sempurna seolah akan turun hujan, dan hawa dingin mulai terasa menusuk kulit, angin berhembus dengan perlahan seolah sang awan sedang menata maksud untuk hujan. Sore yang biasanya terang benderang hari ini , menjadi seperti malam. Kebetulan teman-teman sekamar sedang pada pulang karena libur akhir pekan, dalam satu kamar tinggal tiga orang saja yakni aku, Zidny, dan mas Daus.

"Dingin gini enaknya ngopi kali ya.." ucap zidny.

"Duh, perut juga lagi keroncongan ini, ayo ke warung dah.." ajak mas daus.

"iya juga mas, sama ini lagi laper juga.. ayo brangkat dah" sahutku dengan semangat.

Tanpa pikir panjang, kami bertiga berangkat menuju warung terdekat, maksud kami menuju warung di depan pondok seberang jalan. Kami pun segera turun ke lantai bawah, tiba-tiba gerimis turun lagi dengan pelan. Kami menerabas sambil menjinjing sarung, dengan melompati genangan air di gang kecil sbelum pintu keluar pondok. Tiba tepat di bawah gapura pondok, kami berhenti karena hujan yang semakin deras, " wah, pasti akan basah kuyup jika tetap menerjang menyeberang jalan" ucapku dalam hati. Di gapura ini kami berteduh di bawah asbes( red: Genting ) yang terpasang pada gapura, karena sempit kami saling merapatkan diri supaya tidak basah, tapi tetap saja karena angin yang berhembus. "bessshhhhhh...." seolah disiram orang dengan air satu timba, basah kuyuplah kami bertiga.

Merasa sudah basah zidny langsung berlari menyeberang jalan menuju warung yang bernama WarKop Setia, disusul mas daus baru kemudian aku berlari menyusulnya. Namun na’as ,warkop yang menyediakan minuman hangat dan juga makan ini tutup.
mas daus pun berucap dengan santai "Ketika hujan seperti ini, warkop pun jadi tak setia ya .."
" Gerrrrr ...hahahahahaa" , aku dan zidny tertawa lepas.

" itulah mas daus , nama memang tak pernah menunjukan orangnya, seperti warung ini nih, namanya aja yang warkop setia, saat dibutuhkan gini dia malah tak setia ...hahaa " ucap zidny dengan sok bijak.

" Biarkan warkop ini tak setia, yang penting aku setia menanti adik tercinta...hahaa" ucapku dengan ringan

"hahaha,, Kamu ini sok puitis mbah mbah !! " Sahut Zidny dengan panggilan kesayanganya terhadapku.


Oleh SugitCakGit
Diketik : 07/01/2016
#GUYU(B) SANTRI Cerita kisah

Rabu, 30 Desember 2015

PPDS

Foto Istimewa
Pondok pesantren Darussalam (PPDS)_Keputih Surabaya , menjadi tempat yang paling nyaman kedua setelah rumahku di kampung halamanku. Tak banyak orang yang tau tentang tempat ini, tak banyak orang yang mau pula tinggal di tempat ini. Selama disini aku menyaksikanya sendiri, hampir beberapa orang masuk dan kemudian pergi tak kembali. Mungkin ini adalah anugerah bagiku yang aku sendiri belum tau mengapa aku betah dan sangat rindu pulang ke pondok selepas kuliah. Disini ada orang-orang pilihan, disini ada orang-orang yang berbeda dari biasanya . Aku sangat sulit menjelaskan tempat ini. Mendefinisikanya saja hal yang tak biasa menurutku... ini tempat apa ya ?? selalu sama pertanyaanku..

Aku menulis ini ,dengan duduk menyendiri di pojok lantai 3 dengan bersandar pada pagar hitam pembatas pengaman tempat orang berdiri, sisi ini memang paling tepat untuk mengamati semua keadaan di lingkungan pondok pesantren Darussalam. Tepat arah jam 12 dari sisi utara kupandangi , teman-temanku ada yang asyik bermain dengan piranti kecilnya (gadget canggih), mereka duduk bersama melingkar, entahlah apa yang ada ditengah-tengahnya, tak terlihat dariku saat ku coba memandang. Dekat dengan mereka temanku yang lainya sedang asyik memasak mie isnstant dan kopi bubuk , mereka tertawa-tawa karena alat pemanasnya yang tak kunjung bisa dioperasikan .hahaha... aku jadi ikut tertawa ringan.

Kulihat ke lantai bawah, si Ari salah seorang santri yang sedang asyik mengucek, memeras dan menjemur pakaian, dia sedang mencuci. Wajarlah setiap hari libur kuliah seperti ini, tempat penjemuran pakaian selalu ramai baju-baju para santri yang ingin bersih. Tampak pula seorang santri yang sedang piket membersihkan halaman dengan sapu panjangnya (red: sapu kerik). "krakk krakk ,krakkk" , begitulah kudengar dari lantai tempatku duduk ini. Kutengok lagi, si Ari yang belum selesai jemur pakaian di bawah, sudah ada lagi mas maksum yang mencuci baju di kamar mandi. "wah, mana cukup tuh jemuran", dalam hatiku bergumam..

Aku coba berdiri , masih di tempat yang sama, kucoba menengok kamar-kamar terdekat dari tempatku berdiri, terlihat teman-teman yang sedang tidur lelap sekali, tampak dari bunyi dengkuranya "krookk...krookk" , seperti suara mesin blender jus buah di sebelah rumah. Bahkan suara alarm seseorang yang berbunyi pun tak terhiraukan, tidak ada yang terbangun seorang pun. Merasa kasihan melihat teman-teman yang asyik tidur, aku pun bergegas menuju alarm tersebut dan mematikan bunyi liarnya.

Bergegas aku kembali menuju tempat duduk tadi, di pinggir pagar hitam dengan duduk lesehan. Aku lanjutan tuk menulis kembali, pernah aku mempunyai perasaan yang sama dengan temanku yang kuajak mondok dulu, yang kini telah pergi meninggalkan tempat ini. Kini dia berubah tak seperti seharusnya. Tenang kawan pembaca ini pondok laki-laki semua.. hahahaa

Sedikit bercerita saat pertama aku ada di tempat ini, Sebelum tidur aku berdiri memandangi orang-orang yang telah tidur dahulu, tampak pulas menikmati malam, kuhitung jumlah penduduk satu kamar dengan jari,13 orang +(plus) aku. "waahhhh jumlah yang banyak untuk satu kamar 5x4 ini" , itu yang terpikir olehku.Aku tak bisa tidur malam itu. Kupejamkan mata, tetap saja tidak bisa, tak beralaskan selembar tikarpun, tak ada kasur seperti kos-kosanku dahulu, tak ada penerangan yang secerah kamarku dirumah. Ditambah suara nyamuk yang mengitari telingaku, " ngiiiinggg ,ngiiingggg, ,ngiiing..." lengkap sudah penderitaan malam itu. Sisi atas dan sisi bawah badan semua jadi santapan nyamuk yang tak hirau dengan bau autan(Red: pengusir nyamuk). Jangankan mata terpejam, tubuh diam pun tak mendapat kesempatan. " plak ,plak.. " tangan kanan dan kiri ku ayunkan, tapi tak satupun nyamuk kutagkap. Di tambah dinginya malam yang panjang tak ada satupun yang hirau denganku, karena orang di sekelilingku telah tidur dengan nikmatnya.

Kuambil jas lab berwarna ungu yang biasa kugunakan praktikum di kampus, kain jas ringan itu kugunakan membungkus kepala agar tak terdengar lagi suara-suara nyamuk yang mengitari kepalaku. Sambil kupejamkan mata dengan pelan-pelan hatiku berbisik, " Ya Allah, jangan jadikan hanya karena perkara semacam ini, membuatku luntur semangat untuk mencari (ridho) Engkau ,Ya Rab.. ". Sesaat setelah aku berdoa ,tidurlah aku dengan pulas.
Baru saja merasakan tidur, bunyi keras dari pintu yang digedor oleh ustad dengan sebuah tongkat papan membuatku bangun dengan kaget, " DOKK, DOKK, DOOkk..." . Semua santri bergegas berlarian ke kamar mandi, "Ada apa ini masih malam ribut sekali" pikirku dengan polosnya. Ternyata memang seperti itu alarm pagi bagi para santri.

Sudah satu tahun lebih aku berada di tempat ini, sekarang tak ada lagi rasa segan terhadap apapun yang telah ada, tidur tanpa tikar, tanpa bantal dan tak beralas pun jadi. Dengan nyamuk pun sudah biasa, tidur berdesak-desakan semakin seru supaya sang nyamuk bingung memilih darah mana yang akan dihisap, itu kami anggap cara mengelabuinya. hahaa.

Sisi pondok pesantren yang kental dengan nuansa Kekeluargaan, Kesederhanaan, Semangat dan Keta’dziman terhadap guru mengajarkanku banyak hal. Segi kesederhaan dan saling berbagi mungkin tak akan kudapatkan di tempat lain, disini aku menemukan hal bahwa" manusia tak ada gunanya, jika tak menjadi manfaat bagi semesta alam". Ada banyak hal yang mungkin tak mampu kutulis disini, namun aku meyakini pondok pesantren adalah ladang terbaik belajar untuk kehidupan dan kematian. Alhamdulillah, aku bersyukur masih diijinkan Allah untuk hidup di tempat ini, tempat yang pernah kuidam-idamkan, tapi entah kapan di masa lalu. Disini aku mendapatkan ketenangan, yang terkadang membawaku berandai-andai "Andai aku diijinkan bercita-cita kembali, pasti aku memilih ingin menjadi kyai yang hidupnya tenang tak berfikir masalah duniawi". heheehe.



Sumber :
Kisah iNspiratif Sugitcakgit.
#GUYU(B) SANTRI hikmah kisah motivasi tauhid

Rabu, 14 Oktober 2015

Siapa Husna ?

      Siang ini agak mendung , ada sedikit agenda perkumpulan pada suatu ruangan untuk pertemuan awal. Yang kurasa keringat bercucuran membasahi diri. Wajar lah kota besar ini sangat panas hari ini. Semua orang disekar pun berkata sama, badan lengket , baju basah dan sejenisnya. Aku berada di antara  orang-orang keren sore ini, bagaimana tidak keren tak satupun yang kukenal tapi kami dalam satu ruangan. Cakap ngobrol kesana kemari kulakukan dengan teman lamaku, jadi tak ku gubris semua orang yang tak kukenal, karena mereka pun sibuk berdiskusi dengan rekanya sendiri-sendiri.
Orang di depanku ini makin buat gelisah saja rasanya, dengan berkerudung hitam seolah makin mengumpulkan panas di hadapaku. Tak apalah, ini memang cara perempuan berbusana syar’i. tapi bukan warna hitam yang membuatku gelisah, sikap yang menjaga diri yang kuamati yang memaksa aku berusaha menghindari.

Duuuh, orang ini  … “, dalam hati bergumam. Sesekali tampak melirikkku, aku pengen lari rasanya.
Sedikit  cakap, dia berusaha berbaur dengan orang sekitarnya, tibalah dia menanyakan namaku, 

“ Siapa namamu ?” ucapnya
“jo o ko,” dengan terburu-buru aku menjawabnya.

Sudah hanya itu saja, dia tak lagi menanyaiku. Tampaknya dia tuan rumah dari gedung ini, makanya harus ramah dengan semua pengunjungnya.
Waktunya shalat telah tiba, kebetulan celana yang kugunakan kotor,  karena kendaraan yang ku kendarai  lewat jalan becek saat aku menuju gedung pertemuan. Aku sedikit bingung sementara waktu shalat telah tiba.

Ku tanya orang sekitar tak tau, apakah ada sarung yang bias kugunakan.  Semua orang malah menyarankanku menanyakan tuan rumah tadi.

“Eh mba’, apa ada sarung di musholla dekat gedung ini ?” tanyaku dengan pelan.
InsyaAllah ada mas” jawab mba’nya dengan nada kalem.

Wah makin puyeng aja kepalaku ini, dengar jawabanya. Jarang-jarang aku dengar jawaban seperti  ini sangat meyakinkan rasanya karena ditambah dengan senyuman mba’nya yang manis. hehe
Bergegas aku langsung aja aku menuju musholla ,  sampailah aku di musholla. Kuputari satu musholla tak ada selembarpun sarung.

Hahaha , pikiranku  dibuat tertawa ….

Sore hari menjelang, ruangan pertemuan tampak sepi tiada seorangpun disana. Tinggalah aku seorang yang telah kembali kemudian duduk di kursi paling belakang ruangan untuk menunggu acara selanjutnya. Sengaja aku duduk paling belakang untuk sedikit beristirahat setelah shalat ashar.

Kurasakan ketengan pada ruang pertemuan yang hening, dengan hembus dari angin yang melalui celah-celah cendela di diatas pintu. Kebetulan di luar ruangan ini penuh dengan pepohonan yang masih rimbun dan tanaman obat yang dijadiakan taman. kuletakan kepala yang terasa berat pada badan kursi yang agak keras, supaya menghilangkan kepusingan kepala karena agenda yang terlalu padat. Hampir-hampir mata ini terpejam dengan sempurna, sedikit sayup mata terasa mengantuk akibat hembusan angin yang segar.

Dari sudut kanan ruangan kudengar hembusan suara yang nyaring nan merdu, aku sedikit penasaran dengan suara ini. Sesegera mungkin aku berdiri, melangkahkan kaki ke kanan ruangan. Kusingkap kelambu lusuh cendela, kulihat dari jendela kaca tampak suara merdu itu bersumber dari seorang anak kecil berkerudung biru, kira-kira berumur 7 tahun, yang sedang mengaji dengan lancarnya di ruang panitia pertemuan.

Kesan ini menyeret langkah kaki ku untuk keluar dari ruang pertemuan, kubuka pintu dan aku menuju anak perempuan kecil itu. Aku sedikit mondar-mandir di depan pintu sebelum aku bertanya, karena kwatir menghentikan ngaji anak kecil tersebut. Setelah dia selesai mengaji, sesegera itu aku menghampirinya.

" Dek, maaf toilet sebelah mana ya?" ,gayaku bertanya
" Sebelah sana kak, lurus belok kanan di belakang ruang pertemuan." ucapnya.
"O iya, adik namanya siapa? " tanyaku
"Nisa kak, kakak namanya siapa ?" sahut dia
"panggil saja kak joko, adik disini sama siapa? ,dan kok bisa ada disini ?" tanyaku
"sama kak husna kak, saya tadi ikut soalnya dirumah ibu sama ayah sedang keluar kota, lagian aku juga sering maen disini kak." jawabnya dengan tersenyum.
" ngajinya bagus banget, siapa dek yang ngajari?" tanyaku dengan rasa ingin tau.
" yang ngajari ya pasti kakak aku lah kak, kak husna, dia kan juara ngaji di TPQ nya dulu.. hehe, tapi seringnya aku ngaji sama ibu kadang juga sama ayah" jawabnya dengan bangganya.
"yasudah dek ndang dilanjutin ngajinya, jadi dedek yang pinter ya, ini kakak ada permen mau ndak?"
"ndak mau kak, aku masih punya banyak tuh di tas" jawabnya
kusahut dengan senyum , dalam hatiku berkata "ndak mau yaudah biar tak makan sendiri aja, lagian ini juga dari kotak pertemuan, hehee".

Asyik bicara dengan adik kecil tadi aku pun dipanggil panitia untuk kembali ke ruang pertemuan karena agenda selanjutya akan segera dimulai. Segera aku berdiri dan mengucap salam " sampai berjumpa lagi ya dek, kakak pasti bertemu kamu lagi". dengan mengusap kepalanya aku pun kembali ke ruang pertemuan.

Hikmah : Setiap anak kecil adalah air jernih, kejernihan ini akan terjaga tidaknya bergantung pada sekitar air yang merusak ataukah tidak.

Kisah Inspiratif :

Sahabat Han.

kisah

Jumat, 21 Agustus 2015

PENGKADERAN

          

        Kuliah adalah sekolah lagi. Definisi ini adalah definisi yang paling tepat versi ku sendiri. Bagaimana tidak ,lha wong kuliah saya itu berangkatnya mulai pukul 8 pagi dan pulangnya 16.30 (setengah lima) sore.  Bagiakan sekolah SMA lagi, malah lebih berat dari sekolah SMA yang masuk sekolah jam 7 pagi dan pulang jam 13 siang. Kalo plus les ( bimbingan belajar) paling maksimal pulangnya pukul 15 (3 sore). Ya seperti itulah terasa berat sebagai seorang mahasiswa baru yang harus beradaptasi dari siswa  menjadi seorang mahasiswa. 

            Pengkaderan merupakan suatu prosesi yang tak boleh terlewatkan saat menjadi mahasiwa baru , atau dapat dikatakan wajib ain. Mulai pengkaderan dari tingkat kampus, kemudian pengkaderan versi fakultas dan disambung versi jurusan. Setiap kampus tentunya berbeda prosesi pengkaderanya , jadi jangan disamakan. Karena ada visi misi yang terselip di dalam proses tersebut. Sebagai mahasiswa baru mah nurut aja, cari aman.  Lagian ini juga kesempatanku untuk mengenal banyak orang dalam satu angkatan. Disini juga akan dikenal dengan istilah senior junior, senior dari panitia dan junior mabanya, intinya gitu. Sebagai mahasiswa baru (junior) harus nurut sama senior (mahasiswa lama). 

      Mahasiswa baru diwajibkan  1 1 2, artinya potong rambut kiri kanan 1 cm, 2 cm kepala bagian atas,  kayak tentara saja pikirku. Terlebih waktu pengkaderan jurusan , banya sekali tugas yang dibebankan, mulai dari name tag ,baju harus seragam sampai buku pengkaderan harus sama, padahal buku nya aja nggak pernah digunakan. Tugas- tugas pengkaderan pun terpaksa harus dikerjakan saat malam. Jadi, pulang kuliah sampai malam , kegiatan penuh di kampus.  Semua temanku sama tak ada yang mandi sepulang kuliah. Langsung pada sibuk mengerjakan tugas-tugas pengkaderan kuatir tidak selesai dan pas pertemuan pengkaderan akan kena marah dari senior.

Pada salah satu pertemuan para senior marah kepada kami (para mahasiswa baru ). Karena tugas angkatan kami tidak selesai dikerjakan.

“ Kalian itu gobl*k , tugas seperti ini aja tidak selesai”
“ Tidak niat mengerajakan ?? hah ?”
“ Tidak niat ikut pengkaderan !!”
“Ayo siapa ini yang akan tanggung jawab ??”

 kami semua hanya tertunduk dan diam , seluruh ruangan hening seketika. Saya pun ikut diam mendengarkan kritikan dari senior yang ngalor ngidul , tak anggap saja sebagai radio rusak. Sampai akhirnya saya mendengar perkataan senior yang sangat keras,
“Ayo cepat berdiri !!”
Seketika itu saya langsung berdiri,
“ He kamu ngapain kamu berdiri ?
“Kan Masnya tadi yang nyuruh berdiri, orang ini gimana to , nak konsisten dengan perintahnya “
jawabku dalam hati.
“Jadi kamu yang akan tanggung jawab atas tugas angkatan ini? hah ? ,”
“Ayo jawab , kenapa tugas ini ndak selesai , ndak niat mengerjakan ? hah ?”
suara senior dengan nada tinggi.
Dengan berlagak santai saya coba menjawab “ Ya niat mas kalo ndak niat ya belum sama sekali , itu kan kami sudah mengerjakan beberapa persen,..”
belum selesai menjaelaskan suara senior memotong pembicaraan saya “ itu artinya kalian ndak niat” tau ? hah ?”..
Saya yang masih berdiri kemudian tanya dengan polosnya tanya “kalo masnya sudah mengerjakan tugas dosen MTK ? tadi ada pengumuman buat kelas semester atas di mading dosen.”
Seluruh ruangan kemudian tertawa dengan pertanyaan saya tadi. Para senior dan mahasiswa baru tertawa jadi satu.
“Wah ini semua orang malah tertawa , kenapa ya “ pikirku bingung.

Kemudian senior malah marah kepada kami, “Cepat bubar kalian , saya kasih waktu sampai besok, selesaikan tugas kalian. Cepat bubaaar ..!!”

Akhirnya pengkaderan waktu itu di bubarkan , semua temen-temen mengatakan “ kamu keren emang” . wah makin bigung aja saya ini. Tapi sudahlah yang penting semua temen-temen seneng.

             Hari berganti hari, bulan berganti bulan , akhirnya satu semester penuh pengkaderan telah selesai dijalani. Kalo sudah selesai mengikuti pengkaderan biasanya akan ada lagi acaranya yakni pengangkatan warga, maksudnya adalah prosesi diakui menjadi bagian keluarga himpunan mahasiswa, gampanganya ya diakui sebagai rakyat dari struktur pengurusan himpunan mahasiswa. Jadi, sebagai  rakyat yang berhak melaksanakan hak dan kewajiban demi kesejahteraan bersama. Banyak hal yang kudapat pada tiap pertemuan proses pengkadearan, dari keberanian berpendapat , kekeluargaan ,manajemen waktu dan banyak hal lainya. Banyak pihakyang  pro dan kontra dengan pengkaderan. Akan tetapi selama itu diniati mencari ilmu semua hal pasti baik dilakukan.      

Sumber :
Kisah Inspiratif sugitcakgit

19 Agust-15


Cerita kisah motivasi

Minggu, 16 Agustus 2015

Pulang

             Beristirahat sejenak , duduk di toko pinggir jalan , merupakan cara terbaik jika lelah melakukan perjalanan panjang, banyak sekali fasilitas istirahat yang kini menjadi brand tiap pertokoan ,sebut saja Aflamart , Idnomart dan sejeanisnya. Ya , kini aku sedang duduk di sebuah kursi yang menjadi fasilitas toko tersebut setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh. Ini memang bukan kebiasaan baruku dan bahkan aku tak tau mengapa aku harus  beristirahat di toko ini.
Seseorang tiba-tiba menyapaku setelah keluar dari pintu toko. 

“ Boleh ikut duduk mas ? “ dengarku
iya mbak silahkan .” jawabku
duduklah si mbak itu disampingku. Dengan menawariku segelas air minum.
“ Iya mbak makasi , saya sudah bawa sendiri ini .“ jawabku dengan menolak secara halus.
 Aku jadi diam menikmati semilir angin sambil melihat lalu lalang kendaraan , ini hiburan sendiri bagiku.
 Sambil basa basi aku berusaha mengajak ngobrol orang disampingku ini ,merasa ndak enak  karena dia telah menawariku segelas minuman tadi.

Habis pulang kerja mbak ? “ tanyaku.
“ iya mas , ini habis pulang kerja .“ jawabnya lirih
“ kerja apa mbak ?” sahut pertanyaanku
“ ini mas jadi guru anak-anak di TK Harapan Bunda , masnya kerja juga ?” jawabnya
“ ndak mbak saya masih kuliah , ini dedeknya ya mbak ?” tanyaku lagi
“ iya mas , jawabnya singkat karena dia memanggil dedeknya yang lari-lari.
deekk ..sini dekk.. , nanti jatuh loo.. “  cara dia memanggil dedek kesanyanganya itu.
“ dedek Siapa  dek namaya ?” tanyaku
“Aziza om” jawabnya lucu , jadi senyum sendiri. hemmmmb

           Kemudian kami mengobrol panjang lebar , seolah sudah kenal lama dengan beliau. Kupanggil beliau karena bagiku, guru adalah orang terbaik yang hidup di dunia. Seorang guru mengajarkan manusia menjadi manfaat dengan ilmunya. Meskipun dia tampak masih sangat muda. Aku sangat menghargainya. Apalagi dia seorang guru TK yang menurut cerita banyak orang sangatlah sulit mendidik dan memberi dasar kepada adik-adik yang masih kecil.
Obrolan kami pun panjang lebar , saling mengisi dan kesana kemari bertukar pikiran. Dan sampai aku menemukan satu poin dari ucapanya ,
“ Ternyata bekerja itu sangat melelahkan , saya sendiri sebenernya ndak suka bekerja ,  jadi saya anggap ini sebagai hiburan saya , mengamalkan ilmu dan mendidik anak-anak terutama anak laki-laki supaya benar-benar menjadi imam yang bertanggung jawab ketika wakunya”.
Mendengar hal itu terasa tertegun dalam pikiranku, bagiku ini merupakan ungkapan hati seorang perempuan yang sebenarnya. Seorang perempuan akan merasa lelah ketika harus banyak membagi waktunya. Dan poin keduanya kusimpulkan setiap perempuan pastilah beharap pada seorang laki-laki yang bertanggug jawab untuknya.

          Tanpa ragu aku terus mengajaknya berbicara , seperti halnya kakak adik , atau adik yang berguru pada kakaknya dan kakaknya yang semangat menghargai setiap detail pertanyaan adiknya. Hingga dedeknya ini merengek pada si mbak.

“Kak ayo pulang , ayo pulang .. “ pintanya dengan berekspresi merengek.

dalam hatiku bergumam “wah ini dedek panggil ibunya koq kakak ya, apa jangan-jangan si mbak ini kakanya.”
belum sempat bertanya mereka sudah bergegas pulang dan berucap ‘‘kami balik dulu ya ,  Assalamukaikum... “
“Iya , waalaikumslam , hati-hati di jalan... “ jawabku agak lantang karena jarak parkir dari tempat duduk yang cukup jauh.

         Tinggallah aku sendiri duduk di tempat ini , dan berfikir ulang tentang hal-hal yang telah kami diskusikan tadi. 

#Dan pembaca silahkan simpulkan sendiri .. hehe

Sumber :

 kisah inspiratif by sugitcakgit
23 juli 2015
hikmah kisah

Kamis, 28 Mei 2015

Sepucuk surat untuk nayla

      Malam ini kudatangi toko itu lagi ,toko berkaca dan berwarna merah yang menampakkan jajanan di dalamnya, di depan teras toko itu terdapat  meja yang tersusun sejajar dengan sempitnya teras tersebut, terdapat 2 meja dan 6 kursi yang masing"  1 meja dengan 3 kursi melingkari meja yang bundar itu. Aku pun duduk di salah satunya , tepatnya di kursi yang paling selatan, itulah tempat kita bertemu nayla.Kau ingat ?
Sesekali aku mencoba mengingat malam itu ,meski aku lupa akan wajahmu yang sedikit senyum lebar karena hanya sedikit tau tentang aku .hanya warna
merah yang kuingat hingga malam ini. malam ketika kubuat tulisan ini.
Mungkin karena aku memang tak bermaksud menemuimu malam itu sehingga
aku lupa terhadapmu, lupa akan tegapnya dirimu.

   Saat itu aku ingat betul kau duduk di sebelah sahabatku yang bernama Iansi, Iansi berkata padaku "Sam ini temanku nayla, perkenalkan". Dirimu yang menggunakan gaun merah berkerudung lebar hanya tampak wajah yang berseri ,mata yang sipit dan alis yang tipis tebal dengan senyum yang sumringah tanpa ada rasa bersalah, tapi aku lupa bagaimana mendiskripsikan dirimu.Aku pun sedikit bimbang untuk memandang saat itu ,karena ada tatapan tajam darimu. "Aku tak brani" Dalam hati kecilku berkata.

Kepada Nayla
   Selamat malam nayla ,masihkah kau ingat aku ? Temanmu berbagi dulu, di toko merah kita bertemu.aku ,kamu ,dan sahabatmu ,sahabatmu adalah sahabatku pula. Mungkin kamu sedikit lupa dengan aku. Namaku Sam ,"kak Sam" begitu kau panggil aku waktu itu , Daku tak bisa lupa dengan kata itu ,karena hanya kamu nayla yang memanggilku dengan "kak" ,Sudah ingat belum ? aku hanya orang biasa yang awalnya kau anggap sesepesial yang kau kira, tinggiku 158 cm, wajahku oval ,mataku sipit spertimu dan alisku separuh. pasti sekarang kau ingat nayla ?
Benar nayla , aku Sam.. kak Sam..

beberapa hari lalu aku tak sengaja dari tempat kita bertemu , toko merah. ternya masih sama ,di sebelah tempat duduk kita dulu masih terdapat penjual jus yang sama namun beda orang yang menjualnya mungkin anaknya pak basir ,nama penjual jus yang dulu itu nayla.

kau tau nayla , sejak awal kita bertemu aku tak sanggup mengingat wajahmu , kutau hanya warna merah saat itu. aku hanya berdoa pada Tuhan-ku berharap tau siapa sebenarnya dirimu, beberapa waktu aku jadi memikirkan dirimu , semakin ku ingat warna merahmu semakin aku lupa tehadapmu.
aku pun berusaha menanyakanya pada orang terdekatmu iansi dan kabar baik tentangmu pun datang setiap aku bertanya pada sahabatmu itu.
"ahhh ini semakin menyiksa batinku" hati ini sedikit berkata.
karena aku belum percaya sebaik itukah dirimu , yang benar-benar menjaga diri dari seorang laki-laki manapun termasuk aku. yang selalu bisa mennyesuaikan diri dimanapun kau mau.

Aku bersyukur sekali saat kau mau menyapaku setelah pertemuan itu, aku jadi bisa sedikit tau tentangmu , meski kau membatasi diri dari beberapa hal yang benar-benar ingin kutahu.

Tiga tahun sudah kita tak bertemu nayla, bagaimanakah kabarmu nayla? Baik bukan ?
"Alhamdulillah kak selalu baik .. hehehee"  itu salah satu perkataanmu yang kuingat,
Maaf nayla bukan kak sam ini berusaha mengingatkan masa lalu yang sangat lalu, hanya saja kau harus tau.

Nayla , sudah berapa umurmu saat ini ? semakin tua saja dirimu  itu ... hehehehee

Kabar kak sam pun baik nayla ,aku baru saja pulang ke kampung halaman beberapa bulan lalu , hampir satu bulan aku dirumah, dan kau tau aku sibukan dengan apa ?? aku sibuk mencari tau kabarmu nayla karena aku hilang kontak dari iansi dan dirimu. kini kak sam sudah semester 4 nayla dan Alhamdulillah bulan depan kak sam wisuda untuk yang kedua kalinya. ini memang kabar baik nayla tapi kak sam merasa bersedih karena beberapa waktu yang lalu ada cerita buruk yang kak sam dengar tentangmu namun hal itu cerita baik untuk dirimu. kak sam mungkin tak berhak menuliskan cerita ini terhadapmu tapi kamu harus tau nayla , mungkin karena diri ini yang terlalu sibuk dengan urusan memperbaiki diri. sehingga aku lupa menjadi yang utama di hadapmu.

Beberapa hari sebelum aku kembali ke kota , aku mengunjungi alamat yang pernah kau berikan kepadaku ,maaf nayla hal itu tanpa sepengetahuanmu.kau ingat kertas , benar nayla yang kau tulis di kertas buram dengan tinta merah yang kau selipkan di snack yang kau tawarkan kepadaku itu ,kini aku masih menyimpanya.Tersimpan rapi disisi dompet yang tak seorang pun mengerti.

Satu malam aku menulis tulisan ini sendiri di toko merah , sesekali aku ingat kembali dengan air yang kau sodorkan kepadaku .tapi ketika aku mulai merasa sedikit berhayal senang aku menahanya, karena aku sadar aku sudah kalah.

Sudahlah nayla, tak apa .aku memang tak mampu melawan garis yang sudah terlewat dihadapanku.aku hanya bisa melihatnya dan berusaha menyadarkan diri bahwa itu adalah suatu garis yang sudah benar meski sesekali aku tak bisa menerimanya.akan selalu ku bantu doa nayla.
oh iya , kak sam mohon maaf nayla ,panggilanmu yang terakir kudengar saat aku ke kotamu itu tak kuhiraukan. memang terkadang kata takkan pernah bisa menjelaskan ketika mata ini sudah melihatnya sendiri.dan orang-orang di sekitarmu semakin menjelaskan bahwa kau benar-benar telah memilih.
sungguh itu tak apa.
Jika panggilanmu ketika itu bermaksud meminta maaf kepadaku ,sudah aku maafkan nayla.diriku tidak marah sedikit pun,karena aku pergi pun untuk berjuang,
Sudahlah ,aku hanya titip sampaikan pada janin di dalam perutmu bahwa memang perasaan yang sama tak meski harus bersama.

memang aku yang salah, seharusnya aku harus ingat bahwa cinta memang tak akan pernah bisa menunggu.



Toko merah ,
Kak sam,

sumber :
Cerita inspiratif Sahabat Sam
kisah

Selasa, 22 Oktober 2013

Catatan

Jadikan cara awal mengawali esok hari , kumulai mencatat tulisan tentang rencana pandangan di esok pagi.

pertama "ku tulis" , hanya ada tulisan yang tak kumengerti maknanya , tapi ,kubiarkan saja . selama tak ada yang mengetauhuinya . Mungkin ini hanya rahasia kecil yang dapat pula  dibesarkan , yang pasti tak mumpu ku ungkap dan tak mungkin pula ku mengungkapkanya .

kedua "ku pahami " , kuanggap tulisan biasa saja , tapi sedikit kurenungkan , jadilah sebuah permasalahan , dan apa-apa yang kupikirkan terlampau memanjang lebar .

ketiga "ku bertanya"" , bukan apa-apa sebenarnya , bukan pula permasalahan yang sangat mendasar , hanya saja sidikit merongga ke dalam perasaan , dan tak apalah . mungkin ada yang berubah, dan mungkin dan mungkin dan pula mungkin.

keempat "ku jawab sendiri" , mungkin benar saja pernyataan ku , telah berubah , ya hanya itulah. seorang sahabat yang bisa mengerti pun sama , telah berubah . dan kurasa tetap akan jadi rahasia ,selamanya dari tulisan pertama.

Biar bagaimanapun setiap tulisan memiliki makna , secara tersurat ataupun tersirat . dan akupun takkan berhenti tuk menulis sebagai hal yang tersirat.


salam syukur ...
sudahkah bersyukur di setiap salam ...?? :)


hikmah kisah

 

We are featured contributor on entrepreneurship for many trusted business sites:

  • Copyright © CakSugit Note'S 2015
    Distributed By My Blogger Themes | Designed By Triyono Sugit