Tampilkan postingan dengan label #GUYU(B) SANTRI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #GUYU(B) SANTRI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Juni 2016

Ada apa dengan Ramadhan ?


Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling dinanti oleh semua umat islam. Bulan ini selalu menawarkan kerinduan bagi setiap insan yang beriman, terlebih karena adanya berlipat-lipat ganjaran yang ditawarkan. Ada yang merindukan nikmatnya sahur dengan orang tercinta, berbuka dengan teman. Ada lagi selain itu, keramaian malam di bulan ramadhan selalu membawa cerita tersendiri bagi kawula muda seperti mercoanan, bermain kembang api dan lain sebagainaya, sepertinya bagi kawula tua pun sama menyenangkannya. Ramadhan selalu membawa kabar bahagia terlebih ketika ada kabar dari saudara yang jauh disana akan berpulang bekumpul dirumah utama. Ada pula kabar baik bagi para pemuda yang akan meminang kekasih hati di malam sembilan. Semua penuh dengan kabar yang membahagiakan.

Ketika ramadhan tiba, seluruh raga dan terutama jiwa akan diproses, digembleng menjadi bersih sebersih-bersihnya. Ketika Siang berpuasa menahan segala sesuatu yang membatalkan puasa selama fajar hingga matahari terbenam sempurna, dan saat malam melaksanakan shalat sunnah terawih. Susai bulan ramadhan pastinya nafsu akan lebih tertata karena telah terbiasa terjaga ketika ramadhan. Tubuh menjadi sehat karena kebiasaan baik bangun pagi, badan menjadi kuat karena kebiasaan melangkahkan kaki ke masjid, pikiran selalu fresh karena bangun sahur dan berpuasa saat siang.

Kabar baik selalu erat dengan bulan ramadhan. Namun selalu saja ada beberapa hal yang menjadi sisi lain di bulan baik ini. Salah satu hal yang Unik adalah ketika berbuka puasa. Jalanan menjadi ramai, Jajanan sebelum adzan magrib tiba-tiba ada di pinggiran jalan. Mulai jajan pasar, roti bakar, nasi bakar, dan semua yang dibungkus rapi dan tak lupa es dawet. Pengunjungnya pun bermacam-macam, dari golongan kanan, golongan kiri, golongan yang suka menyalahkan, golongan yang suka membid’ahkan sampai kaum sandal jepit bercelana komprang pun, ada disana. Berbelanja rapi tanpa saling menyalahkan, Kamu akan membeli es dawet ataukah es degan. Tak sempat lagi mempertanyakan hal itu, sudah terlalu fokus untuk saling antri membayangkan nikmat yang akan didapat jika telah berhasil mendapatkan makanan yang diidamkan.

Mungkin kita juga rindu tetika teman-teman lama saling menghubungi mengajak berbuka bersama, meski lebih sering disebut sebagai meninggalkan shalat magrib bersama-sama. Jika tidak seperti itu, susunan acaranya berganti jadi shalat magrib berjamaah, makan bersama kemudian diskusi ngalor ngidul hingga larut malam. Alhasil meninggalkan shalat isya dan terawih secara berjamaah tanpa menarik kesimpulan dari diskusi yang dilakukan. Anehnya hal ini selalu saja terulang tiap tahunnya, kemudian menjadi hal biasa yang biasa-biasa saja.

Tak hanya itu sebenarnya, jika diruntut hal biasa yang menjadi tak biasa pun ada tiap tahunnya. Apakah itu ?. Yakni konflik lama yang selalu saja dibawa oleh sebagian orang untuk merusak nikmatnya beramadhan. Seperti masalah penentuan awal akhir puasa dan Jumlah rakaat terawih. Penentuan awal akhir puasa tidaklah terlalu ekstrim saat menjadi topik yang dilayangkan melalui media sosial sekalipun, dan seolah-olah semua orang sepakat bahwa penentuan tersebut sudah memiki dasar masing-masing dari tiap golongan yang mereka yakini. Berbeda ketika shalat terawih menjadi bahasan, selalu menjadi adu lempar pendapat yang sebenarnya tidak diperlukan. Terkadang membuat kita ngguyu terpingkal-pingkal tanpa kesadaran, bahwa kita tak bisa memahami semua telah memiliki dasar masing-masing seperti halnya penentuan awal bulan ramadhan.

Permasalahan rasanya tiba-tiba menjadi ada akibat tataran pemahaman yang berbeda. Padahal baik perumusan masalah dan batasan hukum telah dibahas bertahun-tahun silam dan kita tinggal mengikutinya saja. Siapa yang bisa disalahkan, media sosial sekarang ini telah mengeksploitasi semua hal. Atau siapakah yang sedang mengambil keuntungan dari konflik internal yang berusaha dibesarkan. Tidak ada yang tau, yang pasti kebencian semacam ini telah mengakar terbentuk sebelum setan dibelenggu ketika bulan ramadhan. Barangkali setanlah yang sedang mengambil keuntungan ataukah setan yang berkepala hitam. Kita tidak pernah sama-sama tau.

Ini ramadhan, Kita cukup fokus antara kita dengan Tuhan, memperbaiki kualitas hubungan dengan kerabat dan teman. Selebihnya biarkan, agar tiada sesal se-usai ramadhan kemudian.



Sugitcakgit
PPDS, 26 Mei 2016
#GUYU(B) SANTRI motivasi

Jumat, 01 April 2016

Ngopi Solusi

Ayok Ngopi
Ngopi merupakan suatu tradisi yang melekat pada masyarakat. Mulai dari kalangan bawah hingga kalangan atas, mulai dari golongan biasa sampai golongan priyai. Siapa yang tak suka ngopi, kaum intelek dan mahasiswa pun menyukainya. Meskipun banyak yang menyebut bahwa ngopi hanya khusus kalangan bawah, Tapi perlu kita pahami bahwa kita hanya beda istilah dan tempat. Perbedaanya hanya tentang nama " Warkop dan Starbak". Sebenarnya ini hanya tentang selera, karena kepuasan lidah yang berbeda. Lidah yang ingin mengungkap rasa manis ataupun pahitnya suasanya.

Perbedaan nama dan tempat, tak bisa mewakili makna dari "Ngopi". Baik itu di sudut jalan tengah kota atapun di pojok mall yang berkaca, tetap saja kita mampu asyik bercengkrama. Baik dengan sanak saudara, tetangga, kawan lama ataupun lawan kita. Suasana yang ditawarkan dari sebuah ajakan untuk ngopi sebernarnya sangatlah bervariasi. Entah itu bermakna ajakan belaka ataukah ada segudang maksud yang diselipkan. Namun hasrat untuk ngopi tetap saja tak bisa diawali dengan berburuk sangka terlebih dahulu.

Ada sedikit aroma yang khas dari secangkir kopi yang ditawarkan. Tawaran secangkir kopi mampu membentuk majlis-majlis kecil yang berisi beberapa orang, tiga hingga sebelas orang. Satu sebagai pembawa alur cerita dan lainya sebagai pendebat cerita. Semua luruh menjadi satu, Mulai dari Gurau yang berkelas, tawa renyah yang pas, Dan Lara duka yang melepas puas terjadi disana. Beban-beban kehidupan yang tak ada obatnya, seolah-olah berguguran satu-persatu. Bahkan perasaan-perasaan para pemuda penggiat cerita cinta tercurah semua dengan hanya secangkir kopi.

Tak hanya itu, ngopi pun mampu melepaskan kejenuhan dalam ke-istiqomahan. Membentuk rasa sabar dalam cerita keseharian yang membosakan. Tak dipungkiri bahwa dari hasil diskusi di warung kopi mampu memberikan kontribusi untuk mengubah negeri. Jika itu terlalu tinggi, setidakya mampu mengubah diri sendiri. Pemikiran cerdas yang tak sengaja pun dapat terlahir disana. Diawali dengan bercerita tentang pribadi diri sendiri dan ungkapan perasaan keseharian, menjadi salah satu metode mengawali ngopi. Tak jarang pula diskusi klasik yang menjadi problematika keseharian dan sosial, selalu saja tak sengaja menjadi bahasan meskipun dengan indikasi "Ngarasani" Teman.

Seruputan pertama adalah cara untuk membuka bahasan, seruputan kedua dan seterusnya adalah cara untuk mendapat hasil dari diskusi yang disajikan. materi tentang perbedaan pendapat selalu saja menarik untuk menjadi bahasan. Terlebih mengenai radikalise dan liberal dalam berpendapat. Sudah barang pasti menjadi moderat adalah pemenang diantara keduanya, Meskipun kita perlu mensepakati sesuatu yang tidak disepakati dari kedua belah pihak. Tak ada standar yang ditawarkan dari suatu kebenaran kecuali kesepakatan hasil dari diskusi bersama. Kebenaran tak pernah bisa kita paksakan dengan standar diri sendiri (perorangan) yang kita sendiri tak mengetahui siapa sebenarnya diri ini. Itulah mengapa, berkaca pada sejarah adalah cara untuk merefleksi permasalahan di masa sekarang demi mensepakati menjadi suatu kebatilan ataukah kebenaran. Bisa dipastikan semua akan kalah dengan sejarah, karena hal yang terjadi saat ini tak ubahnya merupakan hasil dari pemikiran dan diskusi yang disepakati pada tahun silam. Ujungnya sudah pasti bisa kita tangkap, semua akan damai bersepakat hanya dengan secangkir kopi pada tegukan terakir. Meskipun setelah ngopi tak bisa kita ketahui akan bersebrangan kembali ataukah tidak.

Diskusi dengan cara ngopi ataukah ngopi sambil berdiskusi adalah tradisi yang membumi. Tak ada permasalahan yang diselesaikan dengan cara bertengkar disana, tak ada pula dendam yang mengakar setelah problem ini dan itu di diskusikan dengan secangkir kopi. Tak ada pula saling tunjuk dan tonjok menyalahkan sisi lain yang berbeda pendapat kecuali memang belum mengetahui alasan yang sangat tepat.

Ngopi tak hanya bisa dilakukan di warung kopi ataukah keadai sejenisnya. Cukup dengan air panas dengan racikan gula dan kopi sesuai selera akan mampu menjadi pembuka diskusi ataupun menjadi teman untuk menyendiri. Lebih nikmat jika dihidangkan oleh sang istri ataukah pujaan hati (maaf, salah tulis ). Ngopi dan diskusi seolah tak bisa dipisahkan, Selalu saja ada kepahitan yang manis dari seduhan secangkir kopi yang dituang di tengah kebersamaan.

Jika adik sedang menyendiri, Mungkin akang hanya bisa berucap "Minta tolong seduhkan secangkir kopi ya dik, ayo kita diskusi tentang masa depan". hehe


Sgt
PPDS, 31/03/2016
#GUYU(B) SANTRI #Opini campuran

Rabu, 23 Maret 2016

Halaman Santri


Seperti biasa selepas ibadah shalat jum’at adalah waktu yang paling enak untuk tidur siang. Baru saja masuk ke kamar pondok, kulihat Asmi yang lebih dulu pulang dari masjid berebah dengan nikmatnya menikmati kantuk siang. Tanpa rasa sadar tubuh ini tiba-tiba tergiur untuk melenggangkan badan di lantai seperti Asmi. "pelakkk.." tubuh tersungkur di lantai tanpa selembar alaspun, berebah di bawah kipas angin yang terpasang di tengah-tengah atap kamar, sepoi-sepoi hembusan angin dari kipas yang membuat mata ini semakin ingin melekat.

Mas daus yang baru saja datang, menginstruksikan kami untuk piket karena halaman pondok yang kotor dan beberapa sampah yang menumpuk.
" Hee rek , ayo piket.. halaman pondok kotor lo "
" wah mas istirahat dulu lah, masih panas" sahutku
"iya mas daus, besok pagi sajalah ngantuk mbah " ucap asmi

" Waduh-waduh gimana to, yaweslah tak tidur sekalian, aku yo ngantuk rek.. haha" ucap mas daus sambil bereebah di tikar kamar. 

" hahahahaa, mbah" lawong ngajak piket og tambah ikut tidur.." aku dan asmi tertawa geli...


Tak lama setelah bercanda, ternyata mas daus tidur. Sementara aku dan asmi yang berbaring menghadap langit-langit kamar saling bercerita, sejak mas daus tidur aku mendengarkan cerita asmi tentang asyiknya mengajar adik-adik asuh dan banyak lainya, giliranku cerita, kesana-kemari, kutengok asmi, eee ternya sudah tidur juga. " wah cak’as-cak’as, malah tidur.. sudahlah mungkin dia capek" .

Mataku pun semakin sayu, terkena hembusan kipas angin "wussh , wusshh," . Suasana yang pas untuk tidur siang..

Belum lama mata terasa terpejam, kudengar suara " mas-mas minta tolong ini halamanya dibersihkan " suara dari pengasuh pondok. Aku pun bergegas keluar dengan hanya menggunakan sarung yang mengikat perut tanpa baju, sampai depan pintu baru sadar, " waduh mana ini bajuku" aku berlari masuk kamar lagi. "wah-wah untung saja tidak ada orang, bisa disidang aku nanti" .. gumamku.
Dengan sangat terpaksa aku pun membangunkan asmi dan mas daus, " mas-mas ayo piket.. di cari pengasuh tadi..". Mereka pun segera bangun dan kami langsung turun membersihkan halaman pondok. Namanya juga santri kalo denger kata " pengasuh" ya pasti dilakuakan.

Kreek, kreekk, kreeekk.. suara sapu yang diayunkan mas daus dengan pelannya yang tampak masih ngantuk berat.

Belum sampai sampah terkumpul, kami bertiga di panggil ke depan rumah ndalem( rumah kyai). "Hee mas-mas ayo sini ikut saya kumpul di depan" panggilan ustad kepada kami bertiga,
Kami bertiga berbondong-bondong dengan pelan, melewati gang kecil menuju depan rumah kyai.
"Wah mas, ada apa ya kira-kira??" tanyaku pada mas daus
"Iya mas, masak gara-gara ndak ada yang piket?? tadi waktu ustad manggil koq buru-buru ada apa ya?" tanya asmi
"Aku juga nggak tau, ayoo kita kesana sajalah" jawab mas daus.

Sampai di depan rumah pak kyai banyak sekali orang, mulai dari saudara-saudaranya dan cucu-cucunya dan juga beberapa jamaah yang berpaikan rapi. "waduh ada apa ini " ucapku dalam hati.
Pak usatad yang memanggilku kemudian berkata "sudah lengkap semua kyai monggo dipimpin berdoa". Sebelum berdoa pak kyai menjelaskan bahwa sebagaian keluarga beliau akan berngakat umroh, siang hari itu.

"Alhamdulillah... sangat senang sekali hari jumat ini melihat para guru bahagia, semoga para rombongan selamat dan mendapat berkah, semoga para santri segera berangakat pula ke tanah suci, dan semoga keluargaku dan keluarga teman-teman santri segera menyusul ke mekkah sana" Alfatihah, Amiin ...

#S9t
Diketik:

10/02/2016
di MKE laboratory.
#GUYU(B) SANTRI

Sabtu, 12 Maret 2016

Gelap Gerhana

Gambar apik
  Gerhana matahari, fenomena ini cukup menarik untuk diperbincangkan. Beberapa hari yag lalu sebelum hari H terjadi gerhana matahari, hampir setiap stasiun televisi menjadikan hal ini sebagai tema utama. Beberapa orang menganggap hal ini berlebihan, seolah-olah mendahului takdir yang akan terjadi. Lain pihak lain pula caranya, Media cetak pun tak kalah dalam memberitakan hal ini. Bahkan saking seringnya muncul di media, masyarakat desa ikut-ikutan mempersiapkan menyambut gerhana matahari dengan mengabari sanak saudara yang ada di rantau. Mungkin tak banyak yang tau tentang kesakralan beberapa tahun silam saat gerhana matahari terjadi, masyarakat desa ketakutan untuk beraktifitas karena gelap yang menerkam siang, para petani tak berani menghampiri sawah-sawah meski hanya sebentar, anak-anak kecil dilarang bermain meski hanya berlarian di depan rumah. Bahkan Ibu-ibu rumah tangga tak menampakan ujung sapunya di pelataran rumah. Fenomena ini dianggap masyarakat menjadi sebuah momen saat sang penguasa kegelapan memangsa cahaya terang. Namun berbeda dengan hal yang terjadi sekarang ini, hal yang gelap justru diburu meski sekedar untuk diabadikan.
-------------------------------------------------**--------------------------------------------------

Bicara tentang hal yang gelap, pasti kita ingat dengan kata "malam" dan gerhana bulan terjadi saat malam. Malam adalah anugrah yang indah bagi penikmatnya, setiap malam tampak gemerlap bintang yang menunjukan keanggunan sinarnya. Tak jarang lalu lalang kendaraan lebih padat di jalanan hanya untuk menikmati malam, taman-taman di tengah kota ramai tak karuan, pemuda-pemuda desa duduk di pinggiran jalan yang katanya menikmati malam. Ada pula yang menunggu datangnya siang karena tak ada penerangan untuk hidup ketika malam. Sebagian orang terus berjalan mecari sumber cahaya sebagai penghidupan yang tak bisa dipastikan. Ada pula yang berusaha mematik api untuk menerangi malam, ada pula yang menjual cahaya dengan syarat pembayaran dan mahar. Semua tentang cahaya, cahaya yang setiap manusia butuhkan.

Pertanyaanya, adakah hal yang lebih gelap selain dua fenomena tadi ? mana yang lebih gelap ? saat gerhana matahari ataukah saat malam tiba ? jawabannya bukan keduanya, bukan saat gerhana matahari, bukan pula keheningan malam yang tenang.
Hati adalah jawabanya, hati lah yang mampu lebih gelap dari kedua fenomena fana yang hanya sementara tersebut.


Lihatlah saja hal yang terjadi saat ini, manusia mulai tersadar akan keadaanya, mereka mengakui ataukah tidak, dilakukan dengan sadar ataukah tidak, mereka mengikuti ataukah tidak, bukan menjadi jawaban yang penting lagi. Mereka hanya sedang disibukkan dirinya sendiri dalam mencari cahaya, itulah mengapa banyak sekali golongan yang mengakui dirinya paling benar ketimbang yang lain. Lilin-lilin yang mereka genggam sedang memaksa untuk dapat berapi saat petang, kegelapan yang ada dalam diri mereka, memaksa secara sadar untuk menyalakan lilin yang gelap. Beberapa dari mereka memilih menyalakan dengan batu cadas, ada pula yang memilih menyalakan sekedarnya saja, sementara mereka tau bahwa dengan meminta api pada sang ahli lebih bisa hidup lama ketimbang dengan lilin yang melelehkan diri sendiri.

Andai saja malam tak berganti siang dan sang mentari tak mau kembali dari fase gerhana, pasti kita akan melihat cincin-cincin api kecil saat semua manusia sedang menghidupkan lilinnya. Semerbak bagai bintang yang kita amati setiap malam, Ada yang sangat terang ada pula yang redup. Mungkin hanya lilin-lilin yang bergerombollah yang akan menunjukan cahaya paling terang saat petang.

Namun sayang, beberapa pihak berusaha mematikan api-api lilin yang sedang berapi-api, lilin-lilin yang bergerombol berusaha dipisahkan dari kelompoknya, yang menyala redup diarahkan menuju api tipuan yang dianggap api sebenarnya. Apa yang salah dari semua ini, dan siapa yang bisa disalahkan, mereka hanya sedang berusaha mencari cahayanya. Sudahlah biarkan, jangan paksa api itu padam, jangan pula kau rayu menjadi api semu. Bukankah kita akan sangat marah, jika api yang kita nyalakan dipadamkan oleh seseorang. Itulah mengapa menjadi moderat sangat dibutuhkan, ketimbang bersiakap radiakal ataupun liberal. Mempelajari cara orang bermain api pun perlu, namun menjaga hati agar tidak ada benci itu lebih penting.

Diketik 13/03/2016

#sgt
#GUYU(B) SANTRI #Opini campuran

Kamis, 25 Februari 2016

Tanpa masalah adalah masalah ?

Gambar 
Setiap manusia terlahir dengan fitrahnya, mereka memilki sisi baik dan buruk, setiap orang pasti sepakat bahwa tidak ada yang terlahir tanpa memiliki keduanya (baik dan buruk). Dalam setiap perjalanan tidak ada orang yang hidup tanpa masalah, ibaratkan saja setiap masalah adalah udara yang kita hirup, setiap hari ada saja permasalahan yang timbul entah itu dari masalah diri sendiri, masalah kawan, masalah baru , bahkan masalah lama yang terbaharui. Seringkali kita selalu berkutat di permasalahan yang sama karena ingatan-ingatan yang telah mengakar pada pemikiran yang tidak berubah. Pertanyaannya adalah, apakah permasalahan itu perlu tumbuh ?

Saya yakin setiap orang punya pendapat tersendiri terkait pertanyaan ini, namun menurut hemat saya, pertumbuhan permasalahan itu sangat perlu untuk kualitas diri yang lebih baik. Tapi pertanyaan yang akan timbul lagi adalah, jika dengan masalah yang sama saja kita tidak bisa menyelesaikan, mengapa harus menambah masalah dengan memperhatikan opini saya ini ? hehe

Saya jadi teringat dengan syair lagu banjari ketika saya nyanyikan dulu, 

Belajar di waktu kecil ..
Bagai mengukir di atas batu..
Belajar sesudah dewasa..
Laksana mengukir di atas air..


Itu merupakan penggalan lirik lagunya, Jika kita amati secara logika memang mudah saja kita artikan. Saya yakin, sampean akan mengartikan bahwa belajar diwaktu kecil lebih baik dibanding dengan belajar saat telah dewasa. Memang benar dengan arti seperti itu, tidak salah dan saya pun sepakat dengan pernyataan itu. Namun seperti pada lirik lagunya "Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu" , menurut saya itu maknanya adalah ada banyak sekali permasalahan yang akan di tempuh untuk menjadi sebuah ukiran tajam yang indah. Jika anak kecil diibaratkan sebagai batu, bayangkan saja kebingungan dirinya yang tidak tau mengapa dirinya harus diukir. Bayangkan saja kesulitan dalam proses pengukiranya karena tak paham dengan kebutuhan yang sebenarnya wajib dilakukan.

Kita tidak bisa memahami sesuatu tanpa adanya permasalahan dalam kehidupan ini. Mungkin tak akan ada orang yang tumbuh dan berkembang tanpa adanya permasalahan. percaya atau tidak orang-orang besar terlahir karena permsalahan yang besar, sebut saja steve jobs yang terpaksa harus di drop out dan setiap harinya harus menempuh perjalanan 20 mil untuk memperjuangkan pemikiranya tentang si apel. Banyak sekali tokoh besar dunia yang yang terlahir dari permasalahan yang dianggap orang tidak dalam kewajaran manusia.

Permasalahan adalah hal manis yang sedang dibungkus dengan kepahitan sementara, tak ada cara lain selain menghadapi dan sesegera mungkin untuk menyelesaikanya. Tumbuhnya permasalahan memungkinkan kita memahami megapa bahwa sisi manis itu sekedarnya saja, dan menghindar adalah jalan singkat terburuk yang tampak manis. Percayalah saja kawan , Sang Pencipta tidak akan membebani permasalahan melebihi kemampuan Hambanya.

Permasalahan adalah hal penting dalam kehidupan ini, tanpanya kita tidak akan tumbuh berkembang. Jangan meyakini hidup tanpa masalah adalah sebuah kemenganan, karena hidup tanpa malasalah adalah sebuah permasalahan besar. 

Diketik :
22 Februari 2016
by SugitCakgit
#GUYU(B) SANTRI motivasi

Kamis, 07 Januari 2016

Warkop Setia pun Tak Setia

Gambar 
   Sore ini mendung sekali, tampak awan bergulung-gulung berwarna hitam di sejauh aku memandang, dan gerimis kecil mulai berdatangan. Aku yang berdiri di teras masjid Assa’adah memandangi orang-orang berlarian kecil menerjang gerimis setelah sholat ashar berjamaah, ada pula adik kecil bergandengan dengan sang ayah yang berlari dengan pelanya, anak itu tertawa menikmati gerimis sementara sang ayah yang menggandengnya tak henti-hentinya berucap pada anaknya "Ayo diik,dilihat jalannya". namun sang anak tak menghiraukanya, dia tetap asyik berlarian kecil memandangi langit yang meneteskan gerimis sambil tertawa-tawa. "Hemmbb, repot juga ya jika jadi sang ayah" gumamku dalam hati.

   Akhirnya aku pun memutuskan menerjang gerimis, sembari menjinjing sarung dengan tangan kiri dan tangan kanan memegang kopyah agar tak basah, berlari kecil kulakukan dengan berhati-hati. Sampailah aku di asrama pondok, dengan baju bagian pungguh sedikit basah. Aku segera menjereng baju dan berganti dengan baju yang kering. Kuamati melalui cendela gerimis telah reda, "yaahh gerimisnya slesai" ucapku agak kesal. Aku menengok ke langit, langitpun masih hitam sempurna seolah akan turun hujan, dan hawa dingin mulai terasa menusuk kulit, angin berhembus dengan perlahan seolah sang awan sedang menata maksud untuk hujan. Sore yang biasanya terang benderang hari ini , menjadi seperti malam. Kebetulan teman-teman sekamar sedang pada pulang karena libur akhir pekan, dalam satu kamar tinggal tiga orang saja yakni aku, Zidny, dan mas Daus.

"Dingin gini enaknya ngopi kali ya.." ucap zidny.

"Duh, perut juga lagi keroncongan ini, ayo ke warung dah.." ajak mas daus.

"iya juga mas, sama ini lagi laper juga.. ayo brangkat dah" sahutku dengan semangat.

Tanpa pikir panjang, kami bertiga berangkat menuju warung terdekat, maksud kami menuju warung di depan pondok seberang jalan. Kami pun segera turun ke lantai bawah, tiba-tiba gerimis turun lagi dengan pelan. Kami menerabas sambil menjinjing sarung, dengan melompati genangan air di gang kecil sbelum pintu keluar pondok. Tiba tepat di bawah gapura pondok, kami berhenti karena hujan yang semakin deras, " wah, pasti akan basah kuyup jika tetap menerjang menyeberang jalan" ucapku dalam hati. Di gapura ini kami berteduh di bawah asbes( red: Genting ) yang terpasang pada gapura, karena sempit kami saling merapatkan diri supaya tidak basah, tapi tetap saja karena angin yang berhembus. "bessshhhhhh...." seolah disiram orang dengan air satu timba, basah kuyuplah kami bertiga.

Merasa sudah basah zidny langsung berlari menyeberang jalan menuju warung yang bernama WarKop Setia, disusul mas daus baru kemudian aku berlari menyusulnya. Namun na’as ,warkop yang menyediakan minuman hangat dan juga makan ini tutup.
mas daus pun berucap dengan santai "Ketika hujan seperti ini, warkop pun jadi tak setia ya .."
" Gerrrrr ...hahahahahaa" , aku dan zidny tertawa lepas.

" itulah mas daus , nama memang tak pernah menunjukan orangnya, seperti warung ini nih, namanya aja yang warkop setia, saat dibutuhkan gini dia malah tak setia ...hahaa " ucap zidny dengan sok bijak.

" Biarkan warkop ini tak setia, yang penting aku setia menanti adik tercinta...hahaa" ucapku dengan ringan

"hahaha,, Kamu ini sok puitis mbah mbah !! " Sahut Zidny dengan panggilan kesayanganya terhadapku.


Oleh SugitCakGit
Diketik : 07/01/2016
#GUYU(B) SANTRI Cerita kisah

Rabu, 30 Desember 2015

PPDS

Foto Istimewa
Pondok pesantren Darussalam (PPDS)_Keputih Surabaya , menjadi tempat yang paling nyaman kedua setelah rumahku di kampung halamanku. Tak banyak orang yang tau tentang tempat ini, tak banyak orang yang mau pula tinggal di tempat ini. Selama disini aku menyaksikanya sendiri, hampir beberapa orang masuk dan kemudian pergi tak kembali. Mungkin ini adalah anugerah bagiku yang aku sendiri belum tau mengapa aku betah dan sangat rindu pulang ke pondok selepas kuliah. Disini ada orang-orang pilihan, disini ada orang-orang yang berbeda dari biasanya . Aku sangat sulit menjelaskan tempat ini. Mendefinisikanya saja hal yang tak biasa menurutku... ini tempat apa ya ?? selalu sama pertanyaanku..

Aku menulis ini ,dengan duduk menyendiri di pojok lantai 3 dengan bersandar pada pagar hitam pembatas pengaman tempat orang berdiri, sisi ini memang paling tepat untuk mengamati semua keadaan di lingkungan pondok pesantren Darussalam. Tepat arah jam 12 dari sisi utara kupandangi , teman-temanku ada yang asyik bermain dengan piranti kecilnya (gadget canggih), mereka duduk bersama melingkar, entahlah apa yang ada ditengah-tengahnya, tak terlihat dariku saat ku coba memandang. Dekat dengan mereka temanku yang lainya sedang asyik memasak mie isnstant dan kopi bubuk , mereka tertawa-tawa karena alat pemanasnya yang tak kunjung bisa dioperasikan .hahaha... aku jadi ikut tertawa ringan.

Kulihat ke lantai bawah, si Ari salah seorang santri yang sedang asyik mengucek, memeras dan menjemur pakaian, dia sedang mencuci. Wajarlah setiap hari libur kuliah seperti ini, tempat penjemuran pakaian selalu ramai baju-baju para santri yang ingin bersih. Tampak pula seorang santri yang sedang piket membersihkan halaman dengan sapu panjangnya (red: sapu kerik). "krakk krakk ,krakkk" , begitulah kudengar dari lantai tempatku duduk ini. Kutengok lagi, si Ari yang belum selesai jemur pakaian di bawah, sudah ada lagi mas maksum yang mencuci baju di kamar mandi. "wah, mana cukup tuh jemuran", dalam hatiku bergumam..

Aku coba berdiri , masih di tempat yang sama, kucoba menengok kamar-kamar terdekat dari tempatku berdiri, terlihat teman-teman yang sedang tidur lelap sekali, tampak dari bunyi dengkuranya "krookk...krookk" , seperti suara mesin blender jus buah di sebelah rumah. Bahkan suara alarm seseorang yang berbunyi pun tak terhiraukan, tidak ada yang terbangun seorang pun. Merasa kasihan melihat teman-teman yang asyik tidur, aku pun bergegas menuju alarm tersebut dan mematikan bunyi liarnya.

Bergegas aku kembali menuju tempat duduk tadi, di pinggir pagar hitam dengan duduk lesehan. Aku lanjutan tuk menulis kembali, pernah aku mempunyai perasaan yang sama dengan temanku yang kuajak mondok dulu, yang kini telah pergi meninggalkan tempat ini. Kini dia berubah tak seperti seharusnya. Tenang kawan pembaca ini pondok laki-laki semua.. hahahaa

Sedikit bercerita saat pertama aku ada di tempat ini, Sebelum tidur aku berdiri memandangi orang-orang yang telah tidur dahulu, tampak pulas menikmati malam, kuhitung jumlah penduduk satu kamar dengan jari,13 orang +(plus) aku. "waahhhh jumlah yang banyak untuk satu kamar 5x4 ini" , itu yang terpikir olehku.Aku tak bisa tidur malam itu. Kupejamkan mata, tetap saja tidak bisa, tak beralaskan selembar tikarpun, tak ada kasur seperti kos-kosanku dahulu, tak ada penerangan yang secerah kamarku dirumah. Ditambah suara nyamuk yang mengitari telingaku, " ngiiiinggg ,ngiiingggg, ,ngiiing..." lengkap sudah penderitaan malam itu. Sisi atas dan sisi bawah badan semua jadi santapan nyamuk yang tak hirau dengan bau autan(Red: pengusir nyamuk). Jangankan mata terpejam, tubuh diam pun tak mendapat kesempatan. " plak ,plak.. " tangan kanan dan kiri ku ayunkan, tapi tak satupun nyamuk kutagkap. Di tambah dinginya malam yang panjang tak ada satupun yang hirau denganku, karena orang di sekelilingku telah tidur dengan nikmatnya.

Kuambil jas lab berwarna ungu yang biasa kugunakan praktikum di kampus, kain jas ringan itu kugunakan membungkus kepala agar tak terdengar lagi suara-suara nyamuk yang mengitari kepalaku. Sambil kupejamkan mata dengan pelan-pelan hatiku berbisik, " Ya Allah, jangan jadikan hanya karena perkara semacam ini, membuatku luntur semangat untuk mencari (ridho) Engkau ,Ya Rab.. ". Sesaat setelah aku berdoa ,tidurlah aku dengan pulas.
Baru saja merasakan tidur, bunyi keras dari pintu yang digedor oleh ustad dengan sebuah tongkat papan membuatku bangun dengan kaget, " DOKK, DOKK, DOOkk..." . Semua santri bergegas berlarian ke kamar mandi, "Ada apa ini masih malam ribut sekali" pikirku dengan polosnya. Ternyata memang seperti itu alarm pagi bagi para santri.

Sudah satu tahun lebih aku berada di tempat ini, sekarang tak ada lagi rasa segan terhadap apapun yang telah ada, tidur tanpa tikar, tanpa bantal dan tak beralas pun jadi. Dengan nyamuk pun sudah biasa, tidur berdesak-desakan semakin seru supaya sang nyamuk bingung memilih darah mana yang akan dihisap, itu kami anggap cara mengelabuinya. hahaa.

Sisi pondok pesantren yang kental dengan nuansa Kekeluargaan, Kesederhanaan, Semangat dan Keta’dziman terhadap guru mengajarkanku banyak hal. Segi kesederhaan dan saling berbagi mungkin tak akan kudapatkan di tempat lain, disini aku menemukan hal bahwa" manusia tak ada gunanya, jika tak menjadi manfaat bagi semesta alam". Ada banyak hal yang mungkin tak mampu kutulis disini, namun aku meyakini pondok pesantren adalah ladang terbaik belajar untuk kehidupan dan kematian. Alhamdulillah, aku bersyukur masih diijinkan Allah untuk hidup di tempat ini, tempat yang pernah kuidam-idamkan, tapi entah kapan di masa lalu. Disini aku mendapatkan ketenangan, yang terkadang membawaku berandai-andai "Andai aku diijinkan bercita-cita kembali, pasti aku memilih ingin menjadi kyai yang hidupnya tenang tak berfikir masalah duniawi". heheehe.



Sumber :
Kisah iNspiratif Sugitcakgit.
#GUYU(B) SANTRI hikmah kisah motivasi tauhid

Minggu, 27 Desember 2015

Jaman Tampilan




Selamat datang dijaman tampilan, dimana penampilan akan ditinggikan,diagungkan, dan direndahkan.

Selamat datang dijaman tampilan, dimana kesederhanaan sangat dihinakan.

Selamat datang dijaman tampilan, dimana keilmuan tak lagi dihiraukan.

Selamat datang dijaman tampilan, dimana kesenangan dianggap kesengsaraan.

Selamat datang dijaman tapilan, dimana pujian dianggap sebagai jaminan.

Selamat datang dijaman tampilan, dimana tradisi hanya dianggap sebagai kesalahan.

Selamat datang dijaman tampilan, diamana mata yang memandang dijadikan ukuran.

Selamat datan dijaman tampilan, dimana tampilan dijadikan kekuatan.

Selamat datang dijaman tampilan, dimana para pecundang bermain peran.

Selamat datang dijaman tampilan, dimana kejujuran menjadi bahan cemoohan.

Selamat datang dijaman tampilan, dimana kepantasan lebih diutamakan ketimbang keahlian.

Selamat bertarung kawan, jaman kita memang akan sangat mengerikan, dimana tampilan dijadikan 
gertakan untuk membela diri, untuk mengatakan kebenaran. Saat itu akal kita sudah tidak lagi berkutik dihadapan para penari zaman, kedalaman ilmu tak lagi dipentingkan, hanya sebatas kemampuan mata untuk memandang yang dijadikan acuan. Kerusakan-kerusakan akan nampak dengan perlahan dan mematikan. Saling bertarung beradu tampilan yang meyakinkan.


Hal semacam ini tentunya harus kita sikapi dengan bijak, dengan mengukur kemampuan dan berguru pada yang memiliki sanad keilmuan. Bukan hanya masalah akhirat bukan hanya masalah dunia, tapi keduanya dengan berdasar pada agama.

Sumber :
Kisah Inspiratif para sahabat
#GUYU(B) SANTRI puisi

Jumat, 02 Oktober 2015

GUYU(B) SANTRI mesti Hepi [ Hebat pikir e] #3

1.       
Gambar Apik
Ngobrol  malam ini mengenai kalimat CINTA :

“Cinta kepada makhluk itu adalah cinta yang hina”  , ,

maksudnya adalah saat sampean jatuh cinta, smepean akan lupa segala hal, dan tidak peduli dengan hal yang menghalangi cinta sampean hingga tidak sadar sampean sbenerya melakukan hal yang hina. Contohnya : “ sampean iku duwe pacar, mestine kan opo wae seng pacar sampean pingini bakal smpean turuti.  Lha pas isuk-isuk sampean tangi turu pacar sampean sms , minta jemput pas arep budal sekolah misal e. Mestine kan sampean bakal budal jemput arek e.
Saiki sampean pikir, tindakan e sampean iku opo yo ndak tindakan seng hina, sampean diposisikan dibawah kendali pacar sampean. Coba sampean pikir dewe. “


Maknane : Cinta iku ono wadah e , golek ono wadah seng tepak lan ora nyengsarakne awak . iku !!
#GUYU(B) SANTRI

GUYU(B) SANTRI mesti Hepi [ Hebat pikir e] #2

1.       
Gambar Apik
Ini pun masih malam , diskusi kehidupan tetap lanjut.

Kang jo : “ mas , yak opo yo aku saiki seneng arek e .. enak e pye mas ?
Kang us :” yo gapopo kan cuman seneng,
Kang jo : “maksudku iku , enak e arek e tag jak pacaran opo pye mas ?
kang us : yo nek iku ojo,

kang jo : “lho bukane sampean yo pacaran yo mas , hehe
kang us : “Neg aku ndak pacaran, cuman e wes lamaran’’,
kang jo : “yo brati gapopo mas yo yen lamaran disek ae..
kang us : “yo ojo pisan, ngene lo kang. Saiki coba smpean amati antara wong seng pacaran karo ndak pacaran.
kang jo : “opo’o mas , kayak e podo seneng neg duwe pacar ngunu. Hehe”
kag us : “iku sawangan e wae kang, smean mestine kan duwe konco seng duwe pacar, coba sampean bandingno wes , seng duwe pacar karo gak duwe pacar. Kiro-kiro urip e penak an ngendi ??”
Kang jo : “enak an seng duwe pacar mas , iso dijak dolen nag ndi ndi. Haha
kang Us :”iku kan menurut pandangan  matamu, coba gaween moto atimu, seng duwe pacar mesti lak onok wae halangan e yen pengen sukses. Tontok en wae lah teko biji sekolah e, neg gak ngunu tekan rejekine , opo teko kancane. Lak onok wae halangan-halangan e yen pengen tentrem atine..”
Kang jo :” iyo juga yo mas. Neg smsan wae yak opo mas ?”
Kang us : “mending ojo pisan , memang awakmu gak maksiat secara lahir, tapi batinmu yak opo ?? neg pancen ndak kuat yo gapopo penting ojo sampek maksiat lahir utowo batinmu.
kang jo :” wah tambah sip mas, yoweslah aku percoyo pengalaman sampean wae mas . hehe”


Maknane : ndak onok critane wong seng seneng maksiat iku tentrem atine lan lancar rejekine.
#GUYU(B) SANTRI

GUYU(B) SANTRI mesti Hepi [ Hebat pikir e] #1




 Malam ini sangat malam, 3 santri berdiskusi mengenai kehidupan. 
Kang us, Kang ipin, Kang Oji.

Kang us  :  “Jaman saiki iku makin maju, Teknologi tambah merajalela ae. Yak opo yo sesuk jaman e anakku yo”
Kang ipin : “Yo mestine Telpon  wes  ganti jeneng, kiro-kiro Telo paling jeneng e.. wkwkwk”
Kang Oji  : Saut kang oji  “Us –us , Rabi ae dorong mikir i anak.. “ hahaha
Kang Us  :  “yo mending lah, timbangane ra mikir, sesuk sopo seng arep ndongakne awakdewe  yen dudu anak e awkdwe.
Kang Ipin : “ Lho riko karo kang Oji arep  gawe anak bareng kang ?” ahhahaa.
“”Yo ndak lah...””   jawab kang Us dan kan Oji bebaregan.


Maknane :  Yen awakdewe ndak mikir i masa depan trus arep sopo sing mikiri, Yen awakdewe ndak duwe cita-cita dadi anak seng sholeh trus arep yak opo ibu bapak e awakdwe ??  Ayo dipikir.?!
#GUYU(B) SANTRI

 

We are featured contributor on entrepreneurship for many trusted business sites:

  • Copyright © CakSugit Note'S 2015
    Distributed By My Blogger Themes | Designed By Triyono Sugit