Rabu, 23 Maret 2016

Halaman Santri


Seperti biasa selepas ibadah shalat jum’at adalah waktu yang paling enak untuk tidur siang. Baru saja masuk ke kamar pondok, kulihat Asmi yang lebih dulu pulang dari masjid berebah dengan nikmatnya menikmati kantuk siang. Tanpa rasa sadar tubuh ini tiba-tiba tergiur untuk melenggangkan badan di lantai seperti Asmi. "pelakkk.." tubuh tersungkur di lantai tanpa selembar alaspun, berebah di bawah kipas angin yang terpasang di tengah-tengah atap kamar, sepoi-sepoi hembusan angin dari kipas yang membuat mata ini semakin ingin melekat.

Mas daus yang baru saja datang, menginstruksikan kami untuk piket karena halaman pondok yang kotor dan beberapa sampah yang menumpuk.
" Hee rek , ayo piket.. halaman pondok kotor lo "
" wah mas istirahat dulu lah, masih panas" sahutku
"iya mas daus, besok pagi sajalah ngantuk mbah " ucap asmi

" Waduh-waduh gimana to, yaweslah tak tidur sekalian, aku yo ngantuk rek.. haha" ucap mas daus sambil bereebah di tikar kamar. 

" hahahahaa, mbah" lawong ngajak piket og tambah ikut tidur.." aku dan asmi tertawa geli...


Tak lama setelah bercanda, ternyata mas daus tidur. Sementara aku dan asmi yang berbaring menghadap langit-langit kamar saling bercerita, sejak mas daus tidur aku mendengarkan cerita asmi tentang asyiknya mengajar adik-adik asuh dan banyak lainya, giliranku cerita, kesana-kemari, kutengok asmi, eee ternya sudah tidur juga. " wah cak’as-cak’as, malah tidur.. sudahlah mungkin dia capek" .

Mataku pun semakin sayu, terkena hembusan kipas angin "wussh , wusshh," . Suasana yang pas untuk tidur siang..

Belum lama mata terasa terpejam, kudengar suara " mas-mas minta tolong ini halamanya dibersihkan " suara dari pengasuh pondok. Aku pun bergegas keluar dengan hanya menggunakan sarung yang mengikat perut tanpa baju, sampai depan pintu baru sadar, " waduh mana ini bajuku" aku berlari masuk kamar lagi. "wah-wah untung saja tidak ada orang, bisa disidang aku nanti" .. gumamku.
Dengan sangat terpaksa aku pun membangunkan asmi dan mas daus, " mas-mas ayo piket.. di cari pengasuh tadi..". Mereka pun segera bangun dan kami langsung turun membersihkan halaman pondok. Namanya juga santri kalo denger kata " pengasuh" ya pasti dilakuakan.

Kreek, kreekk, kreeekk.. suara sapu yang diayunkan mas daus dengan pelannya yang tampak masih ngantuk berat.

Belum sampai sampah terkumpul, kami bertiga di panggil ke depan rumah ndalem( rumah kyai). "Hee mas-mas ayo sini ikut saya kumpul di depan" panggilan ustad kepada kami bertiga,
Kami bertiga berbondong-bondong dengan pelan, melewati gang kecil menuju depan rumah kyai.
"Wah mas, ada apa ya kira-kira??" tanyaku pada mas daus
"Iya mas, masak gara-gara ndak ada yang piket?? tadi waktu ustad manggil koq buru-buru ada apa ya?" tanya asmi
"Aku juga nggak tau, ayoo kita kesana sajalah" jawab mas daus.

Sampai di depan rumah pak kyai banyak sekali orang, mulai dari saudara-saudaranya dan cucu-cucunya dan juga beberapa jamaah yang berpaikan rapi. "waduh ada apa ini " ucapku dalam hati.
Pak usatad yang memanggilku kemudian berkata "sudah lengkap semua kyai monggo dipimpin berdoa". Sebelum berdoa pak kyai menjelaskan bahwa sebagaian keluarga beliau akan berngakat umroh, siang hari itu.

"Alhamdulillah... sangat senang sekali hari jumat ini melihat para guru bahagia, semoga para rombongan selamat dan mendapat berkah, semoga para santri segera berangakat pula ke tanah suci, dan semoga keluargaku dan keluarga teman-teman santri segera menyusul ke mekkah sana" Alfatihah, Amiin ...

#S9t
Diketik:

10/02/2016
di MKE laboratory.
#GUYU(B) SANTRI

Tjelaknya perasaan


Aku bosan dengan hampanya perasaan
Kekosongan ini tak kalah gelap dengan malam hari
Melanglang sepi tak ada yang mengerti
Mengerti makna diam dengan sanubari

Aku bosan dengan tipuan yang pantas
Tak ubahnya sama saja dengan kertas hanyut dalam sungai
Merenggut diri perlahan nan menghanyutkan
Merayu dengan permainan-permainan gurauan

Aku bosan dengan dengan kata cinta
Katanya saja akan bertahan lama
Nyatanya sama saja dengan kata aku lupa
Nyatanya sama saja dengan kata biasa saja

Aku bosan dengan permainan perasaan
Meluapkan kekesalan hanya dengan kata kasih sayang
Mengatakan kata bukan dengan ungkapan kerinduan
Mengiyakan cinta ujung khianat yang tiba

Aku bosan dengan rasa manja
Tak ada lagi perasamaan ketiga
Saat memilih yang pertama
Bukan pula yang kedua

Tak akan ada lagi cara meyakini
Keyakinan yang telah dimatikan
Tak ada lagi cara menghindar
Dari perasaan yang dihidupkan

Siapa yang mampu menghentikan perjuangan
Atas nama cinta yang telah dihidupkan
Siapa pula yang mampu menahan perasaan manja nan bosan
Atas nama kasih sayang demi sang pujaan

Sudahlah lupakan... Kenyataan yang tak berimbang
Sudahlah tinggalkan... Keyakinan yang hanya separuh jalan
Sudahlah pinggirkan saja... Kekuasaan yang hanya menghanyutkan
Sudahkah kau tanya dirimu... Pada siapa cinta sucimu kau labuhkan


# Sgt

22/03/2016 /// 23:25
campuran puisi

Sabtu, 12 Maret 2016

Gelap Gerhana

Gambar apik
  Gerhana matahari, fenomena ini cukup menarik untuk diperbincangkan. Beberapa hari yag lalu sebelum hari H terjadi gerhana matahari, hampir setiap stasiun televisi menjadikan hal ini sebagai tema utama. Beberapa orang menganggap hal ini berlebihan, seolah-olah mendahului takdir yang akan terjadi. Lain pihak lain pula caranya, Media cetak pun tak kalah dalam memberitakan hal ini. Bahkan saking seringnya muncul di media, masyarakat desa ikut-ikutan mempersiapkan menyambut gerhana matahari dengan mengabari sanak saudara yang ada di rantau. Mungkin tak banyak yang tau tentang kesakralan beberapa tahun silam saat gerhana matahari terjadi, masyarakat desa ketakutan untuk beraktifitas karena gelap yang menerkam siang, para petani tak berani menghampiri sawah-sawah meski hanya sebentar, anak-anak kecil dilarang bermain meski hanya berlarian di depan rumah. Bahkan Ibu-ibu rumah tangga tak menampakan ujung sapunya di pelataran rumah. Fenomena ini dianggap masyarakat menjadi sebuah momen saat sang penguasa kegelapan memangsa cahaya terang. Namun berbeda dengan hal yang terjadi sekarang ini, hal yang gelap justru diburu meski sekedar untuk diabadikan.
-------------------------------------------------**--------------------------------------------------

Bicara tentang hal yang gelap, pasti kita ingat dengan kata "malam" dan gerhana bulan terjadi saat malam. Malam adalah anugrah yang indah bagi penikmatnya, setiap malam tampak gemerlap bintang yang menunjukan keanggunan sinarnya. Tak jarang lalu lalang kendaraan lebih padat di jalanan hanya untuk menikmati malam, taman-taman di tengah kota ramai tak karuan, pemuda-pemuda desa duduk di pinggiran jalan yang katanya menikmati malam. Ada pula yang menunggu datangnya siang karena tak ada penerangan untuk hidup ketika malam. Sebagian orang terus berjalan mecari sumber cahaya sebagai penghidupan yang tak bisa dipastikan. Ada pula yang berusaha mematik api untuk menerangi malam, ada pula yang menjual cahaya dengan syarat pembayaran dan mahar. Semua tentang cahaya, cahaya yang setiap manusia butuhkan.

Pertanyaanya, adakah hal yang lebih gelap selain dua fenomena tadi ? mana yang lebih gelap ? saat gerhana matahari ataukah saat malam tiba ? jawabannya bukan keduanya, bukan saat gerhana matahari, bukan pula keheningan malam yang tenang.
Hati adalah jawabanya, hati lah yang mampu lebih gelap dari kedua fenomena fana yang hanya sementara tersebut.


Lihatlah saja hal yang terjadi saat ini, manusia mulai tersadar akan keadaanya, mereka mengakui ataukah tidak, dilakukan dengan sadar ataukah tidak, mereka mengikuti ataukah tidak, bukan menjadi jawaban yang penting lagi. Mereka hanya sedang disibukkan dirinya sendiri dalam mencari cahaya, itulah mengapa banyak sekali golongan yang mengakui dirinya paling benar ketimbang yang lain. Lilin-lilin yang mereka genggam sedang memaksa untuk dapat berapi saat petang, kegelapan yang ada dalam diri mereka, memaksa secara sadar untuk menyalakan lilin yang gelap. Beberapa dari mereka memilih menyalakan dengan batu cadas, ada pula yang memilih menyalakan sekedarnya saja, sementara mereka tau bahwa dengan meminta api pada sang ahli lebih bisa hidup lama ketimbang dengan lilin yang melelehkan diri sendiri.

Andai saja malam tak berganti siang dan sang mentari tak mau kembali dari fase gerhana, pasti kita akan melihat cincin-cincin api kecil saat semua manusia sedang menghidupkan lilinnya. Semerbak bagai bintang yang kita amati setiap malam, Ada yang sangat terang ada pula yang redup. Mungkin hanya lilin-lilin yang bergerombollah yang akan menunjukan cahaya paling terang saat petang.

Namun sayang, beberapa pihak berusaha mematikan api-api lilin yang sedang berapi-api, lilin-lilin yang bergerombol berusaha dipisahkan dari kelompoknya, yang menyala redup diarahkan menuju api tipuan yang dianggap api sebenarnya. Apa yang salah dari semua ini, dan siapa yang bisa disalahkan, mereka hanya sedang berusaha mencari cahayanya. Sudahlah biarkan, jangan paksa api itu padam, jangan pula kau rayu menjadi api semu. Bukankah kita akan sangat marah, jika api yang kita nyalakan dipadamkan oleh seseorang. Itulah mengapa menjadi moderat sangat dibutuhkan, ketimbang bersiakap radiakal ataupun liberal. Mempelajari cara orang bermain api pun perlu, namun menjaga hati agar tidak ada benci itu lebih penting.

Diketik 13/03/2016

#sgt
#GUYU(B) SANTRI #Opini campuran

Kamis, 25 Februari 2016

Tanpa masalah adalah masalah ?

Gambar 
Setiap manusia terlahir dengan fitrahnya, mereka memilki sisi baik dan buruk, setiap orang pasti sepakat bahwa tidak ada yang terlahir tanpa memiliki keduanya (baik dan buruk). Dalam setiap perjalanan tidak ada orang yang hidup tanpa masalah, ibaratkan saja setiap masalah adalah udara yang kita hirup, setiap hari ada saja permasalahan yang timbul entah itu dari masalah diri sendiri, masalah kawan, masalah baru , bahkan masalah lama yang terbaharui. Seringkali kita selalu berkutat di permasalahan yang sama karena ingatan-ingatan yang telah mengakar pada pemikiran yang tidak berubah. Pertanyaannya adalah, apakah permasalahan itu perlu tumbuh ?

Saya yakin setiap orang punya pendapat tersendiri terkait pertanyaan ini, namun menurut hemat saya, pertumbuhan permasalahan itu sangat perlu untuk kualitas diri yang lebih baik. Tapi pertanyaan yang akan timbul lagi adalah, jika dengan masalah yang sama saja kita tidak bisa menyelesaikan, mengapa harus menambah masalah dengan memperhatikan opini saya ini ? hehe

Saya jadi teringat dengan syair lagu banjari ketika saya nyanyikan dulu, 

Belajar di waktu kecil ..
Bagai mengukir di atas batu..
Belajar sesudah dewasa..
Laksana mengukir di atas air..


Itu merupakan penggalan lirik lagunya, Jika kita amati secara logika memang mudah saja kita artikan. Saya yakin, sampean akan mengartikan bahwa belajar diwaktu kecil lebih baik dibanding dengan belajar saat telah dewasa. Memang benar dengan arti seperti itu, tidak salah dan saya pun sepakat dengan pernyataan itu. Namun seperti pada lirik lagunya "Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu" , menurut saya itu maknanya adalah ada banyak sekali permasalahan yang akan di tempuh untuk menjadi sebuah ukiran tajam yang indah. Jika anak kecil diibaratkan sebagai batu, bayangkan saja kebingungan dirinya yang tidak tau mengapa dirinya harus diukir. Bayangkan saja kesulitan dalam proses pengukiranya karena tak paham dengan kebutuhan yang sebenarnya wajib dilakukan.

Kita tidak bisa memahami sesuatu tanpa adanya permasalahan dalam kehidupan ini. Mungkin tak akan ada orang yang tumbuh dan berkembang tanpa adanya permasalahan. percaya atau tidak orang-orang besar terlahir karena permsalahan yang besar, sebut saja steve jobs yang terpaksa harus di drop out dan setiap harinya harus menempuh perjalanan 20 mil untuk memperjuangkan pemikiranya tentang si apel. Banyak sekali tokoh besar dunia yang yang terlahir dari permasalahan yang dianggap orang tidak dalam kewajaran manusia.

Permasalahan adalah hal manis yang sedang dibungkus dengan kepahitan sementara, tak ada cara lain selain menghadapi dan sesegera mungkin untuk menyelesaikanya. Tumbuhnya permasalahan memungkinkan kita memahami megapa bahwa sisi manis itu sekedarnya saja, dan menghindar adalah jalan singkat terburuk yang tampak manis. Percayalah saja kawan , Sang Pencipta tidak akan membebani permasalahan melebihi kemampuan Hambanya.

Permasalahan adalah hal penting dalam kehidupan ini, tanpanya kita tidak akan tumbuh berkembang. Jangan meyakini hidup tanpa masalah adalah sebuah kemenganan, karena hidup tanpa malasalah adalah sebuah permasalahan besar. 

Diketik :
22 Februari 2016
by SugitCakgit
#GUYU(B) SANTRI motivasi

Gaya atau Taqwa



Melihat, merupakan salah satu hal yang mampu memperngaruhi cara berfikir manusia. Dengan melihat, seseorang akan menyampaikan persepsi terhadap sesuatu yang dipandangnya. Seperti halnya mesin scan yang mengidentifikasi tulisan pada kertas yang akan di ambil wujud tulisan, sehingga mampu menghasilkan gambar atau tulisan yang sama tanpa ada perbedaan dengan aslinya. Apa sampean sepakat dengan pernyataan saya tadi ?. Semoga tidak, hehee

Seni menghias, design, ataupun dekorasi, hingga saat ini masih menjadi cara yang paling ampuh dalam memasarkan suatu produk di pasaraan. Banyak sekali cara pengemasan yang unik dan asyik untuk dinikmati para calon pembeli. Tak jarang kemasan yang berlebihan biasanya tak sesuai dengan isi yang diharapkan. Bukankah kita sendiri pernah merasakan, saat membeli makanan berbungkus menggoda namun hasil sesuai dengan ekspektasi, misalnya saja saat kita membeli snack kentang yang bergambar dan berbungkus besar seolah-olah berisi banyak, namun kenyataanya yasudahlah..,

Hal semacam inilah yang saat ini digunakan untuk memasarkan produk yang hanya mementingkan keuntungan bagi para produsen yang membuat kecewa pelanggan yang awam. Namun tak semua produk seperti itu sebenarnya, misalnya saja mie instan, saat kita membeli di bungkusnya terdapat gambar yang sangat menarik pada penyajianya, terdapat mie, sayur, telor kemudian bumbu yang jika dibayangkan. beehhh.. sangat nikamat pastinya.

Berbeda dengan tampilan pada bungkus makanan, berbeda pula dengan cara berhias (maaf) bagi kaum hawa. Gaya lama seperti halnya dengan potongan rambut pendek pada tahun 80an, kemudian menggunakan rok mini dan juga berkerudung ala kadarnya mulai dtinggalkan. Model berpakaian dan berdandan yang kini mulai berubah. Wajarlah setiap manusia banyak yang ingin berubah menjadi lebih baik lagi. Salah satu bentuk trend yang ramai saat ini adalah cara berhijab( maknai saja (batas) menutup diri ). Model hijab yang dikembangkan cukup banyak, selain itu tak jarang pula setiap kota-kota besar memiliki komutitas tersendiri dan ada saja event yang digelar untuk model dandan yang satu ini. Sebenarnya tanpa ada trend semacam ini, kaum yang satu ini memang sangat suka sekali dalam bersolek karena hal tersebut secara garis besar memang kodrat yang wajib ada sebagai bentuk kaum hawa dianggap normal. Taruhlah kita setuju-setuju saja, jika memaknai berhijab adalah cara menutup diri. Namun menutup diri yang sperti apa ? Dari makna tersebut dapat ditangkap dua persepsi, menutup seperti halnya menutup pintu berkaca ataukah kemudian menutup pintu yang terbuat dari cermin. Tanpa dijelaskan, sebernarnya sampean sudah dapat menyimpulkan apa yang saya maksud. Tapi agar tak berbeda persepsi akan sedikit saya jelaskan. haha... Mari kita bayangkan ada dua brankas yang berisi benda-benda penting, misal uang, perhiasan dan lain sebagainya, satu akan ditutup dengan pintu yang berbahan kaca (bukan cermin), yang satu lagi akan ditutup dengan pintu berbahan cermin. Keduanya akan sama-sama tertutup dengan rapat, namanya juga brangkas.. hehe.
 
Jadi seperti ini maksud ana. Kedua penutup tadi sama-sama menggunakan bahan kaca, Namun dapat dipastikan dengan penutup kaca yang tampak dari luar, Ancaman bahaya sangat besar karena isi perhiasan yang menggoda. Sementara yang tertutup dengan cermin akan lebih aman dari mara bahaya.

Tapi coba kita ubah cara pandangnya, bagaimana jika yang tertutup dengan cermin tadi tidak berisi uang, perhiasan, dan barang penting lainya. Ya memang dalam contoh tadi adalah bahan berharga yang ada di dalamnya. Namun tetap saja dalam kenyataanya kita tidak pernah tau isi brangkas yang tertutup dengan sebuah kaca. Saat kita tidak tau, Bagaimanakah sikap kita jika brangkas tersebut malah berisi sebuah kotoran busuk atau binatang buas yang siap menerkam saat kita membuka brankas tersebut.

Hal inilah yang sebenarnya cukup membingungkan, sekarang ini banyak sekali perempuan yang tampak cantik dalam berhias dengan model hijab yang tak karuan macamnya. Banyak sekali alasan dan cara yang mereka lakukan agar tak ketinggalan dengan trend terbaru ini. Ada yang tadinya tak berhijab, ikut-ikutan berhijab dan menjadi lebih baik. Ada pula yang dengan kerudung besar dan tampak shalihah saat berjalan sendiri, namun ternyata tetap saja berdua-duaan dengan lain mahram. Bahkan ada pula yang menutupi kesalahanya (Hamil/MBA) dengan cara ini.

Tetap saja penilaian itu tidak bisa dari sisi negatif saja. Tentunya ada sisi positif yang tersendiri dari hal semacam ini. Hal inilah yang akan menjadi permasalahan baru terutama bagi kaum adam dalam bersikap. Akan terasa sulit membandingkan antara benar-benar taqwa ataukah hanya gaya belaka. Memilih menilai dengan mata Indra ataukan menilai dengan mata Hati.

Gaya ataukah taqwa ?
itulah pertanyaanya,


Diketik :
20 Februari 2016
by SugitCakgit


#Opini campuran

Senin, 11 Januari 2016

SPE Team 12

foto istimewa

Sudah berapa tahun kita bersama kawan ?? Sudah berapa kali kita bertatap muka, dalam sehari ini ?? Sudah berapa sering kita saling membenci dan saling mencintai ?? Sudahlah jangan baper, hahaa. Satu lagi, Sudah berapa adik tingkat dibawah kita ?? 

Aku yakin sampean semua tidak akan bisa menjawabnya, termasuk saya kecuali pertanyaan terakir.
Siang ini aku sedang berada di bangunan berlantai 3 kita (Gedung Energi), lebih tepatnya di pojokan ruang TA sebelah printer hitam yang atasnya ada beberapa tinta yang siap bekerja, dan aku duduk di pojokan kasur berwarna tak jelas karena seringnya ditiduri tapi tak pernah dicuci. Sesekali aku memandangi tulisan di dinding sebela kanan dari tempatku duduk, " Cepet Lulus, Cepet Kerja, Cepet Nikah ". Entahlah apa maksud yang terkandung dari tulisan itu, mungkin sekedar motivasi atau mungkin sebuah kode tersembunyi dari sang penulis tulisan itu yang hingga kini masih menjadi misteri. "Hehemmb..." jadi senyum sendiri.

Siang ini sangat panas, itulah mengapa hampir satu kelas SPED4 12 (red : Sepeda Rolas ) masuk ruang TA untuk sekedar ngadem. Di pojok kanan Ayik dan Nopik yang sibuk dengan strategi footbal manager yang hingga kini saya sendiri tidak tau strateginya "iyalah orang ndak ikut main" haha,
si Bidin di sampingku yang sedang menggambar turbin dan tak kunjung selesai, Hanjar yang diam terpaku pada gadgetnya seolah sedang beromunikasi secara gaib dengan HPnya, begitupun sama yang dilakukan Kevin dan kakJon. 

" Gooll.... " suara Zaki yang sedang bermain PES dengan Danto sementara Wayan dan Aul yang sedang menunggu giliran main dan bertindak sebagai saksi gol sekaligus komentator pertandingan zaki dan danto. 

" broo" suara bambang yang ada di luar ruangan menyapa adik kelas terdengar hingga dalam ruangan dan semua teman tertawa mendengarnya "hahaha .. ,mbang mbang !!"

Sementara, Khilmy yang berdiri berhadapan dengan wisnu sedang membuat janji untuk makan nanti malam, entahlah di mana mereka akan malam mungkin di rumah si khilmy.

si Ciwi-Ciwi ( red: Perempuan ) berenam yang bergerombol menghalangi pintu keluar ruangan sedang asyik membicarakan mulai makanan, orang , hingga yang lain sebagainya, entahlah yang satu kemana dari pasukan tersebut hilang kemana. " Duh pasukan ini memang gerombolan yang paling aneh di dunia,merasa selalu benar dan sulit dimengerti" ucapku dalam batin. 

Suasana makin rame dengan alunan musik yang di putar oleh Edwin dengan genre melayu, sebut saja dangdut. Tak karuan sudah satu ruangan ini, ditambah Tio yang sedang tidur di belakang kasur yang ku tempati, rasanya ruangan ini lebih panas dibandingkan di luar ruangan, " kreeekkkk" Suara pintu yang terbuka karena Novan dan Hamka yang baru saja datang. Ditambah suara mas Nyoman yang cempreng sedang berusaha memainkan gitar dengan bersandar pada dinding sambil memandangi chord gitar dari mbah gugel, duduk tepat diatas posisi kepala Tio yang sedang tidur. " Hahaa"

Datanglah si nanda dengan berlari-lari menuju ruang TA" woe gaes ada info menyenangkan dari pak tio nih, kita akan ada evaluasi mengenai persiapan menghadapi dunia sebenarnya plus class gatering" menyampaikan dengan gaya alaynya. 
Namun Na’as teman-teman tak ada yang memperhatikanya kecuali ciwi-ciwi yang ada di depan pintu masuk. Merasa tidak ada yang menghiraukanya, muncullah suara laki-lakinya " woee wooee, neg dikek i info iku mbok ya di rungokno rek, iki gae awakdwe " ucap nanda dengan nada tinggi.

" Uwess tak rungokne nda, woles wae lah" sahut nopik dengan nada kalem

"iyoo" ayik menambahi dengan nada melengkingnya.

"Ora usah banter-banter to nda, arek-arek ngerti ,wes krungu kok" tegas bidin menambahi.
"iya ndulles .." ucap rira dengan senyum.

"Tenang ndull, aku selalu memperhatikan kamu kok" sahut kakJon dengan nada nyantai.
"Gerrr, haahahhaa ", semua temen-temen rame tertawa..

Selang beberapa detik juri datang dengan langkah pelannya, " onok opo rek kok rame, krungu tekan ndisor kumau " ucap juri dengan polosnya.
" Perkoroe yo koen iku jur , teko telat takon-takon !!" ucap nanda agak kesal.
"hahahaha, jur jurr.. " satu ruangan makin heboh, tertawa sejadi-jadinya.
dan juri hanya bingung menggaruk kepalanya.

Mungkin ini sedikit hiburan di masa pusing Tugas Akhir seperti ini. Setidaknya sampean-sampean senyum membacanya kalopun tidak yasudah nanti kita senyum bareng saat kita foto wisuda ya. haha , Seperti itulah keseharian KITA kawan, maafkan dengan tulisan yang sedikit ngawur ini, setidaknya ini akan menjadi pengikat, dan pengingat di suatu masa nanti ketika KITA saling meraih mimpi.

Tapi Sudah ada pendamping wisuda belum ?? Tenang bro kalo belum, besok pas wisuda bisa pampang baner di bawah nih

gambar motivasi



Salam,  
  Ojo'ngantuk

Oleh sugitCakgit
diketik pada 11 januari 2016


motivasi

Kamis, 07 Januari 2016

Warkop Setia pun Tak Setia

Gambar 
   Sore ini mendung sekali, tampak awan bergulung-gulung berwarna hitam di sejauh aku memandang, dan gerimis kecil mulai berdatangan. Aku yang berdiri di teras masjid Assa’adah memandangi orang-orang berlarian kecil menerjang gerimis setelah sholat ashar berjamaah, ada pula adik kecil bergandengan dengan sang ayah yang berlari dengan pelanya, anak itu tertawa menikmati gerimis sementara sang ayah yang menggandengnya tak henti-hentinya berucap pada anaknya "Ayo diik,dilihat jalannya". namun sang anak tak menghiraukanya, dia tetap asyik berlarian kecil memandangi langit yang meneteskan gerimis sambil tertawa-tawa. "Hemmbb, repot juga ya jika jadi sang ayah" gumamku dalam hati.

   Akhirnya aku pun memutuskan menerjang gerimis, sembari menjinjing sarung dengan tangan kiri dan tangan kanan memegang kopyah agar tak basah, berlari kecil kulakukan dengan berhati-hati. Sampailah aku di asrama pondok, dengan baju bagian pungguh sedikit basah. Aku segera menjereng baju dan berganti dengan baju yang kering. Kuamati melalui cendela gerimis telah reda, "yaahh gerimisnya slesai" ucapku agak kesal. Aku menengok ke langit, langitpun masih hitam sempurna seolah akan turun hujan, dan hawa dingin mulai terasa menusuk kulit, angin berhembus dengan perlahan seolah sang awan sedang menata maksud untuk hujan. Sore yang biasanya terang benderang hari ini , menjadi seperti malam. Kebetulan teman-teman sekamar sedang pada pulang karena libur akhir pekan, dalam satu kamar tinggal tiga orang saja yakni aku, Zidny, dan mas Daus.

"Dingin gini enaknya ngopi kali ya.." ucap zidny.

"Duh, perut juga lagi keroncongan ini, ayo ke warung dah.." ajak mas daus.

"iya juga mas, sama ini lagi laper juga.. ayo brangkat dah" sahutku dengan semangat.

Tanpa pikir panjang, kami bertiga berangkat menuju warung terdekat, maksud kami menuju warung di depan pondok seberang jalan. Kami pun segera turun ke lantai bawah, tiba-tiba gerimis turun lagi dengan pelan. Kami menerabas sambil menjinjing sarung, dengan melompati genangan air di gang kecil sbelum pintu keluar pondok. Tiba tepat di bawah gapura pondok, kami berhenti karena hujan yang semakin deras, " wah, pasti akan basah kuyup jika tetap menerjang menyeberang jalan" ucapku dalam hati. Di gapura ini kami berteduh di bawah asbes( red: Genting ) yang terpasang pada gapura, karena sempit kami saling merapatkan diri supaya tidak basah, tapi tetap saja karena angin yang berhembus. "bessshhhhhh...." seolah disiram orang dengan air satu timba, basah kuyuplah kami bertiga.

Merasa sudah basah zidny langsung berlari menyeberang jalan menuju warung yang bernama WarKop Setia, disusul mas daus baru kemudian aku berlari menyusulnya. Namun na’as ,warkop yang menyediakan minuman hangat dan juga makan ini tutup.
mas daus pun berucap dengan santai "Ketika hujan seperti ini, warkop pun jadi tak setia ya .."
" Gerrrrr ...hahahahahaa" , aku dan zidny tertawa lepas.

" itulah mas daus , nama memang tak pernah menunjukan orangnya, seperti warung ini nih, namanya aja yang warkop setia, saat dibutuhkan gini dia malah tak setia ...hahaa " ucap zidny dengan sok bijak.

" Biarkan warkop ini tak setia, yang penting aku setia menanti adik tercinta...hahaa" ucapku dengan ringan

"hahaha,, Kamu ini sok puitis mbah mbah !! " Sahut Zidny dengan panggilan kesayanganya terhadapku.


Oleh SugitCakGit
Diketik : 07/01/2016
#GUYU(B) SANTRI Cerita kisah

 

We are featured contributor on entrepreneurship for many trusted business sites:

  • Copyright © CakSugit Note'S 2015
    Distributed By My Blogger Themes | Designed By Triyono Sugit