Minggu, 05 Juni 2016

Ada apa dengan Ramadhan ?


Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling dinanti oleh semua umat islam. Bulan ini selalu menawarkan kerinduan bagi setiap insan yang beriman, terlebih karena adanya berlipat-lipat ganjaran yang ditawarkan. Ada yang merindukan nikmatnya sahur dengan orang tercinta, berbuka dengan teman. Ada lagi selain itu, keramaian malam di bulan ramadhan selalu membawa cerita tersendiri bagi kawula muda seperti mercoanan, bermain kembang api dan lain sebagainaya, sepertinya bagi kawula tua pun sama menyenangkannya. Ramadhan selalu membawa kabar bahagia terlebih ketika ada kabar dari saudara yang jauh disana akan berpulang bekumpul dirumah utama. Ada pula kabar baik bagi para pemuda yang akan meminang kekasih hati di malam sembilan. Semua penuh dengan kabar yang membahagiakan.

Ketika ramadhan tiba, seluruh raga dan terutama jiwa akan diproses, digembleng menjadi bersih sebersih-bersihnya. Ketika Siang berpuasa menahan segala sesuatu yang membatalkan puasa selama fajar hingga matahari terbenam sempurna, dan saat malam melaksanakan shalat sunnah terawih. Susai bulan ramadhan pastinya nafsu akan lebih tertata karena telah terbiasa terjaga ketika ramadhan. Tubuh menjadi sehat karena kebiasaan baik bangun pagi, badan menjadi kuat karena kebiasaan melangkahkan kaki ke masjid, pikiran selalu fresh karena bangun sahur dan berpuasa saat siang.

Kabar baik selalu erat dengan bulan ramadhan. Namun selalu saja ada beberapa hal yang menjadi sisi lain di bulan baik ini. Salah satu hal yang Unik adalah ketika berbuka puasa. Jalanan menjadi ramai, Jajanan sebelum adzan magrib tiba-tiba ada di pinggiran jalan. Mulai jajan pasar, roti bakar, nasi bakar, dan semua yang dibungkus rapi dan tak lupa es dawet. Pengunjungnya pun bermacam-macam, dari golongan kanan, golongan kiri, golongan yang suka menyalahkan, golongan yang suka membid’ahkan sampai kaum sandal jepit bercelana komprang pun, ada disana. Berbelanja rapi tanpa saling menyalahkan, Kamu akan membeli es dawet ataukah es degan. Tak sempat lagi mempertanyakan hal itu, sudah terlalu fokus untuk saling antri membayangkan nikmat yang akan didapat jika telah berhasil mendapatkan makanan yang diidamkan.

Mungkin kita juga rindu tetika teman-teman lama saling menghubungi mengajak berbuka bersama, meski lebih sering disebut sebagai meninggalkan shalat magrib bersama-sama. Jika tidak seperti itu, susunan acaranya berganti jadi shalat magrib berjamaah, makan bersama kemudian diskusi ngalor ngidul hingga larut malam. Alhasil meninggalkan shalat isya dan terawih secara berjamaah tanpa menarik kesimpulan dari diskusi yang dilakukan. Anehnya hal ini selalu saja terulang tiap tahunnya, kemudian menjadi hal biasa yang biasa-biasa saja.

Tak hanya itu sebenarnya, jika diruntut hal biasa yang menjadi tak biasa pun ada tiap tahunnya. Apakah itu ?. Yakni konflik lama yang selalu saja dibawa oleh sebagian orang untuk merusak nikmatnya beramadhan. Seperti masalah penentuan awal akhir puasa dan Jumlah rakaat terawih. Penentuan awal akhir puasa tidaklah terlalu ekstrim saat menjadi topik yang dilayangkan melalui media sosial sekalipun, dan seolah-olah semua orang sepakat bahwa penentuan tersebut sudah memiki dasar masing-masing dari tiap golongan yang mereka yakini. Berbeda ketika shalat terawih menjadi bahasan, selalu menjadi adu lempar pendapat yang sebenarnya tidak diperlukan. Terkadang membuat kita ngguyu terpingkal-pingkal tanpa kesadaran, bahwa kita tak bisa memahami semua telah memiliki dasar masing-masing seperti halnya penentuan awal bulan ramadhan.

Permasalahan rasanya tiba-tiba menjadi ada akibat tataran pemahaman yang berbeda. Padahal baik perumusan masalah dan batasan hukum telah dibahas bertahun-tahun silam dan kita tinggal mengikutinya saja. Siapa yang bisa disalahkan, media sosial sekarang ini telah mengeksploitasi semua hal. Atau siapakah yang sedang mengambil keuntungan dari konflik internal yang berusaha dibesarkan. Tidak ada yang tau, yang pasti kebencian semacam ini telah mengakar terbentuk sebelum setan dibelenggu ketika bulan ramadhan. Barangkali setanlah yang sedang mengambil keuntungan ataukah setan yang berkepala hitam. Kita tidak pernah sama-sama tau.

Ini ramadhan, Kita cukup fokus antara kita dengan Tuhan, memperbaiki kualitas hubungan dengan kerabat dan teman. Selebihnya biarkan, agar tiada sesal se-usai ramadhan kemudian.



Sugitcakgit
PPDS, 26 Mei 2016
#GUYU(B) SANTRI motivasi

Pagar



Pagar itu terlalu tinggi untuk kulalui
Terlalu tinggi untuk ku loncati
Terlalu tinggi untuk ku langkahi
Terlalu tinggi untuk ku rendahkan

Pagar itu terlalu kuat untuk ku potong
Terlalu kuat untuk ku tembus
Terlalu kuat untuk ku terabas
Terlalu kuat untuk ku lunakkan

Tralis besi itulah modelnya
Menjadi pembatas diantara batas-batas
Batas antara senyum dan tangis
Batas antara suka dan duka

Pagar itu berwarna putih
Meski sisi lain berwarna hitam
Putih karena keelokan semu
Hitam karena tangis yang tak terdengar

Ujungnya terlalu lancip untuk ku sentuh
Dasarnya terlalu rapat untuk ku sepuh
Ku rengkuh sekali
Tetap saja tangan tak sampai

Pagar itu ternyata batas
Batas antara tinggi dan rendah
Batas antara kuat dan lemah
Batas antara angkuh dan ramah

Masih adakah ?


Batas antara Benar dan batil
Batas antara Besar dan kecil
Batas antara Elit dan sipil
Batas antara mengerti dan menerima


Antara batas itu ada senyum yang berbeda makna
Antara batas itu ada segudang cerita
Antara batas itu ada peristiwa sulit dilupa
Antara batas itu ada


Antara batas itu kita perlu bertanya
Mengertikah kita ?
Bahwa...
Antara batas itu adalah batas



PPDS, 05062016
Sugitcakgit



campuran puisi

Jumat, 27 Mei 2016

Kenduren Berkat

Gambar berkat
Berkat... saya rasa tak ada yang asing dengan kata tersebut. Terlebih di desa saya, setiap sudut rumah dan kepala keluarga amat akrab dengan kata berkat. Berkat merupakan suguhan yang dihidangkan pada saat sebuah doa dipanjatkan, bisa juga berkat terhidang ketika ada hajat yang diinginkan. Berbekal kalimat "monggo pak kenduren ing ndalem kulo" dalam bahasa indonesia berarti "mari pak saya undang di hajatan saya", dengan kalimat tersebut setiap orang akan hadir mengiyakan dengan semangat. Kemudian mereka (para undangan) mengajak anaknya masing-masing dan berbondong-bondonglah bapak dan anak menghadiri undangan singkat yang disebut dengan kenduren. Mungkin adik-adik tersebut mengerti ajakan bapaknya, atau bisa jadi hanya ngikut aja dan menng amin kan dengan suara paling keras saat doa di panjatkan, Yang pasti kehadiran mereka menyenangkan sang pemilik hajat. 
Definisi Berkat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah Karunia Tuhan yang membawa kebaikan dalam hidup manusia. Itu menurut KBBI online dari internet, tapi kalau menurut orang-orang di desa saya merupakan kepanjangangan dari " brekk diangkat " yang berarti saat hidangan di suguhkan bisa langsung dihabiskan. Mungkin maksud dari pemakanaan dua suku kata tersebut adalah hajat yang di harapkan segera terjadi dan dikabulkan Tuhan. Ada desa seberang jalan yang menyebutnya sebagai Ambeng berkat, ya tak ada bedanya. Hanya masalah kalimat saja dan tak mengurangi sedikitpun esensi yang terkandung di dalamnya. 
Ambeng berkat tak ubahya adalah sebuah hidangan yang tersaji atas syukur atas suatu hajat yang telah dan akan terlaksana. Sesuatu yang wajib ada saat kita akan melakukan sebuah acara, seperti pernikahan, kithanan maupun acara yang lainya. Bukan hanya acara besar, acara kecil seperti serangkaian peringatan hari ulang tahun, tingkepan ataupun serangkaian proses menanam padi yang disebut orang jawa "keleman, wiwit", nyadran dan banyak sekali yang menjadi akibat adanya sebuah berkat. Selain itu, berkat biasanya digunakan untuk mengumpulkan orang-orang desa dan desa yang lainya saat ada acara sedekah desa dan panen raya. 
Berkat salah satu metoda dalam megumpulkan masyarakat, tak ada yang lebih tinggi dan merasa tinggi kecuali sang pemilik hajat. Biasanya para bapak-bapak yang menghadiri kenduren, akan saling duduk bersama membentuk lingkaran ataupun baris duduk dengan rapi. Sambil menunggu undangan yang lain datang ataupun sebelum doa dipanjatkan, mereka saling berbincang dengan tema yang sama-sama mereka inginkan. Mulai dari pertanian hingga masalah tetangga sebelah yang telah usang, ada saja topik menarik yang menjadi kabar baik bagi sebagaian orang. 
Banyak sekali nilai-nilai yang tertuang dalam sebuah kenduren bersama. Selain penyampaian penguman dari sang pemilik hajat, ataupu pak bayan sebagai pemimpin dusun, biasanya juga para sesepuh desa sedikit menjelaskan nilai-nilai kemanusiaan dan informasi seputar hari yang menjadi hajat, sejarah berdirinya suatu desa, ataupun perjuangan masyarakat dalam menghidupkan desa mereka. Nilai yang lain yakni mengenai silaturahim dan kebersaam yang tercipta tanpa sengaja, seperti cara mengenalkan menantu laki-laki yang berasal dari desa seberang dengan cara menghadiri undangan kenduren tetanggga sebagai bentuk menjadi menantu yang baik. 
Tradisi kenduren ( berkatan) ini cukup melekat bagi orang-orang desa seperti saya, terlebih orang-orang tua yang telah melakukan tradisi ini secara turun temurun hingga saat ini. Namun kegiatan ini tidak se intens masa lalu yang hampir setiap bulan di desa saya selalu saja ada orang yang berhajat ataupun membuat berkat, setidaknya pak bayan (kepala dusun) yang melakukanya untuk mengumpulkan masyarakatnya. Hingga saat ini kegiatan tersebut terus berkurang ke-eksistensinya. Sebut saja desa sebelah yang biasanya melakukan kenduren sebelum panen raya, sekarang tidak lagi melakukanya karena beberapa kelompok yang tak memahami nilai-nilai yang ada di dalamnya. Saya jadi merasa kawatir jika saja hal tersebut akan menular ke desa saya suatu saat nanti. 
Semoga saja hal itu tidak akan terjadi. Kalaupun hal itu terjadi semoga saja tetap di desa sebelah saja dan tidak merambah ke desa-desa sebelahnya.

PPDS, 20 Mei 2016 08.39 
by SugitCakgit
campuran motivasi Tradisional

Jiwa Raga Kami

Bendera merah putih
Bait lama yang kudiamkan
Mengombang ambing di tengah kelembutan
Membawa amarah yang tak kunjung padam
Dengan bait sabar semua terisolir


Kawan muda mulai tertawa
Kawan lama mulai berkata-kata
Berdiam tak menjadi solusi
Bergerak pun tak menunjukan aksi


Saat manipulasi tak lagi di gubris
Saat itu kekejaman seolah manis
Saat itu kekejaman tiba-tiba menjadi tangis
Saat itu reinkarnasi komunis tak menjadi bengis


Tangisan tahun silam cukup lama didiamkan
Tak menimbulkan ungkapan berarti untuk sebagian orang
Tak bisa menyiksa dengan ungkapan sederhana
Tak bisa dijadikan acuan kepolosan belaka


Kala sang kreator mulai beraksi
itu artinya ada maksud tersembunyi
Meski dengan senyum sipu malu
Maksud kekejaman itu tak bisa menjadi lucu


Inilah negeri para aksi
Beraksi seanarki mungkin
Bertindak sekeras mungkin
Disana tertawa semanis mungkin


Bisa jadi tawa dan tawa ran yang menjajikan itu
Menjadi pilu bagi sebagaian orang
Bisa pula menjadi sogokan atas kekerasan
Bukan dengan tudingan yang kelihatan

Korupsi, kolusi, Nepotisme
Tak pernah lari dari ini negeri
Terlalu mengakar
Terlalu Bosan untuk diperbincangkan

Tak ada kalimat pantas kecuali perjuangan

Memberantas mafia di tengah jalan gedung
Menguatkan barisan mengasah ujung pedang
Merapatlah semua pemuda juang

Kami yang akan menggantikan


Dan bagimu negeri
Jiwa
Raga
Kami



PPDS, 20 Mei 2016
by SugitCakgit
Bendera campuran puisi

Kamis, 28 April 2016

Inilah Kelas Inspirasi Kami

Foto Istimewa
Alhamdulillah, itulah kalimat yang paling indah yang bisa terucap di hati ini. Betapa senangnya hari Senin silam (25 April 2016), saya dapat berkumpul dengan orang-orang hebat. Relawan kelas inspirasi Jombang, Itulah sebutan bagi mereka para penginspirasi. Bersamaan dengan bulan peringatan hari Kartini, #SemangatKartini adalah pemicu semangat bagi kami.

Persiapan dilakukan semenjak satu bulan sebelum kelas inspirasi ini dilakukan, Mulai dari penjaringan relawan, pemetaan sekolah dasar hingga pemilihan tempat Briefing dan refleksi. Semua dilakukan para relawan penginisiasi tanpa adanya bantuan dana, keringat, ataupun support dari satu orang pun. Dari sanubari, mungkin itulah ungkapan yang pas bagi mereka para penginspirasi. Tahapan-tahapan yang dilaksanakan sesuai dengan timeline dan konsep yang sangat matang dan tertata. Konsepan ini bukan hanya menganut grand desaign tahun lalu, namun mengikuti desaign yang lebih terbaharui. Hampir semua ditata ulang untuk mendapatkan kualitas yang pas dan mengena pada hari inspirasi.

Tiap tahapan yang dilakukan oleh penginisiasi bukan tanpa masalah. Bahkan, satu demi satu para penginisiasi ini terseleksi oleh alam dengan sendirinya. Tak hanya itu, para peserta inspirator pun bergurguran bak daun kering "mreeteli dewe-dewe". Terkadang hal ini memang membuat pusing, terlebih saat esok adalah hari H Inspirasi. Menyerah, tak ada waktu untuk membahas kalimat itu, seperti sebuah ungkapan "Menyerah adalah langkah yang terputus karena kau tak tau di depan sana terdapat berlian". Mungkin sampean asing dengan kalimat ungkapan itu, karena itu hanya ungkapan saya. haha. Kembali lagi ke topik utama, Semangat kami tak bisa terputus saat teringat masa depan bangsa ini terdapat pada adik-adik negeri ini. Mencoba memutar pikiran ke arah kiri kanan , ke atas bawah, dan ke semua arah. Hasilnya kami eksekusi dengan totalitas tinggi.

Esok adalah hari Inspirasi, Minggu sore kami disibukan dengan perlengkapan dan banyak hal. Mulai banner, alat tulis, gambar-gambar, dan kelengkapan lainya. Kami bagi tugas, ada yang menghubungi para inspirator, ada pula yang memikirkan konsep dengan terbatasnya orang. Kemudian kami membagi porsi tidur. Ada pula yang tak bisa tidur sebab saking gentingnya suasana, karena salah seorang relawan tak kunjung konfirmasi. Sementara dia satu-satunya yang digadang-gadang akan mensukseskan acara inti.

Hari telah tiba, Senin pagi kami bersiap berangkat menuju SDN Kauman 3 Ngoro, Jombang. Disela-sela bersih diri pagi hari, Persiapan dilakukan kembali sejak sebelum subuh tiba, dengan mengecek kelengkapan apa saja yang akan dibawa. Bagian fasilitator mengecek barang bawaan, dokumentator mengecas baterai kamera masing-masing, sementara para inspirator sibuk menyiapkan materi yang akan disampaikan nanti. Waktu sudah menunjukan pukul 05.15, ini adalah jadwal dimana kami harus berangkat ke lokasi. Rombongan belajar 3 ( rombel 3 ) akan segera diberangkatkan, kami sudah siap semua. Namun ternyata ada yang kurang, satu relawan masih kurang. Dengan terpaksa kami harus menunggunya 15 belas menit lagi, jika tidak ada kabar, maka kami sepakat akan berangkat dengan orang seadanya. Waktu sudah menunjukan pukul 05.25, para relawan lainya sudah mengajak untuk berangkat saja, saya berusaha meyakinkan teman-teman bawha satu orang ini pasti hadir. Tepat pukul 05.27, Alhamdulillah satu relawan ini hadir, Dan rombel 3 KI jombang 3 di SDN kauman 3 berangkat dengan semangat optimis akan sukses mengispirasi para calon pemuda negeri.


note : Tahap ini adalah tahapan persiapan, Dan kita semua hanya sedang tahapan persiapan. Disini saya menemukan banyak sekali persiapan, mulai persiapan acara, persiapan berangkat, dan ada pula persiapan pulang. Semua tahapan di dunia ini hanyalah tahap persiapan, barangkali inilah tahapan yang disebut sebagai bagian memantaskan diri. Setiap proses persiapan ini harusnya selalu memberi motivasi dan inspirasi untuk manfaat yang lebih untuk ummat.

Semua ini hanyalah tahapan persiapan menuju prosesi kematian.
#Salam Inspirasi



Diketik 28 April 2016
by Sugit cakgit 
@PPDS
campuran motivasi

Rabu, 27 April 2016

Sebening Embun

gambar embun 

Aku menitipkan sebuah surat terlipat dengan tetesan air mata. Surat yang tertulis oleh saksi malam, dan dinginnya malam saat musim kemarau silam. Kutulis perlahan sebagaimana peremmpuan mengungkapkan perasaan. Aku memang hanyalah perempuan diam yang hanya bisa menunggu ungkapan dari sesosok laki-laki dewasa yang siap menjadi imam. Tulisan ini tak ubahnya perasaan yang tertahan, atas sebuah rasa kesal pada seseorang yang benar kuharapkan. Bait katanya kuungkap sangat ringkas dengan pilihan kata khusus sangat bagus. Meski perbendahaaran kata yang sangat sederhana, aku mencoba menuliskanya dengan sangat sempurna. Setidaknya semua ini bisa mewakili perasaan yang diam.

Aku tidak pernah membandingkan laki-laki manapun, dari segi apapun. Baik kaya, terpandang, berkedudukan bahkan bangsawan sekalipun. Harapanku hanya Akhlak yang bisa bertanggung jawab, yang menjadi pertimbangan dalam hidupku. Mau mencukupi kebutuhanku, bukan keinginanku. Mau menyaksikan kelahiran putra pertamaku dan memberikan adzan untuknya. Aku hanya sedang bersedih, sebagai seorang perawat seringkali aku menyaksikan sendiri kelahiran seorang bayi oleh ibu tanpa ditemani sang suami. Bagaimana perasaanya sang ibu, saat menahan kesakitan setengah mati tapi sang suami tidak ada disampingnya. Tapi mau bagaimana lagi , itu hanya ungkapanku , ungkapan ini tak pernah bisa mewakili perasaan orang lain apalagi sang ibu yang sedang melahirkan bayi. Meski terkdang ku anggap telepon adalah hal yang bisa mewakili, tapi aku rasa itu tidak mungkin bisa. Sebagai seorang wanita mungkin sudah seharusnya memahami jika memang itu yang akan terjadi padaku suatu saat nanti meski aku sendiri sangat tidak ingin itu terjadi.

Aku sudah sangat sering mencari berita, tentang bagaimana menjadi seorang ibu. Buku demi buku kupelajari, tak jarang aku pun belajar masak melalui resep-resep yang ada majalah-majalah, dan resep dari handphone. Bukan hanya itu, gadget canggihku ini pun tak pernah berhenti mengikuti tulisan-tulisan mengenai problematika keluarga. Memang sangat banyak sekali ternyata, tak jarang pula kualitas bacaan-bacaan yang kupelajari membuatku miris, mulai perselingkuhan, percerian, hingga dampak terhadap anak. Aku mencoba memahami, kesiapan diriku memang sangat kurang dan aku akan terus belajar. Biasanya ibu pun kuajak bicara tentang permasalahan-permasalahan berkeluarga. Ibu selalu menjadi juara dan guru terbaik dalam semua problematika. Barangkali hanya ibulah yang mampu memahami perasaanku dan persaan wanita yang sesungguhnya. Ibu memang bukan perawat sepertiku, saat aku telahir ayahlah yang mengadzani diriku. Aku sangat bahagia mendengar cerita itu.
 
Aku jadi ingat pelajaran ketika duduk di bangku Madrasah dulu. Kala itu guruku menerangkan bahwa Ucapan seorang ibu adalah doa yang sangat manjur, selaian itu guruku pun bilang jika ucapan seorang laki-laki yang meminta cerai (tidak dalam bercanda) satu kali maka dihukumi talak satu, jika dilakukan tiga kali maka sang istri bukan lagi bagian dari sang suami. Namun jika sang istri yang menyatakan cerai pada pengadilan dengan beberapa syarat, maka suami istri haruslah berpisah.  Dari sini saya belajar bahwa ungkapan laki-laki tak pernah bisa seberat ungkapan seorang wanita yang sesungguhnya. Hal inipun sudah aku buktikan ketika masih kuliah dulu, suatu ketika aku bertemu dengan seorang bapak-bapak yang kukenal ketika aku masih SMA dengan maksud berbasa-basi aku bertanya " sekarang berapa putranya pak ?" beliau malah menjawab dengan tertawa " putra dari istri mana dulu ?? haha". Padahal aku tau sendiri istrinya hanya satu, Tak hanya sekali ini aku mencoba bertanya seperti itu pada bapak-bapak dan jawabanya hampir selalu sama. Namun berbeda dengan ibu-ibu, yang ketika ditanya mereka akan langsung menjawab dengan apa adanya. Ya itulah perempuan selalu lebih dewasa sebenarnya, hehemmb. Ibu pernah bilang kepadaku bahwasanya laki-laki itu hanya butuh dipahami sebagaimana anak kecil sehingga dia akan tampak dewasa dan gagah perkasa. Barangkali film yang pernah ku tonton yakni Tenggelamnya kapal Van der Wijck adalah gambaran kerapuhan seorang laki-laki yang sebernarnya. Maaf, bukan berarti aku mengatakan semua laki-laki seperti itu. hehemb

Surat yang kumaksud adalah doa yang selalu terlipat diantara petang dan pagi. Yah, aku sendiri berusaha mengungkapkan pada Tuhan dengan air mata agar tak ada yang bernasib sepertiku ini, tak ada yang kusakiti dan kita semua akan bahagia. Aku hanya terinsiprasi dari ibu yang setiap malam tidur bersamaku ketika aku kecil dulu karena ayah yang bekerja shift malam. Kulihat ibu berdoa sejadi-jadinya untukku dan keluargaku. Aku hanya berusaha diam sambil berpura-pura tidur kala itu. Mungkin air mata ibulah yang sebening embun, begitupun air mata wanita lainya. Sebagaimana embun yang hanya bisa ditangkap oleh dedaunan yang tak kaku. Semakin tidak kaku suatu daun, maka disanalah embun akan berkumpul dengan lebih banyak. Ungkapan itu mungkin bisa kita pahami, sudah seharusnya seorang laki-laki itu tidak kaku dan juga tidak lemas untuk memahami embun yang bening.



Diketik 26 April 2016
Isnpirasi 
Cerita kisah

Jumat, 01 April 2016

Ngopi Solusi

Ayok Ngopi
Ngopi merupakan suatu tradisi yang melekat pada masyarakat. Mulai dari kalangan bawah hingga kalangan atas, mulai dari golongan biasa sampai golongan priyai. Siapa yang tak suka ngopi, kaum intelek dan mahasiswa pun menyukainya. Meskipun banyak yang menyebut bahwa ngopi hanya khusus kalangan bawah, Tapi perlu kita pahami bahwa kita hanya beda istilah dan tempat. Perbedaanya hanya tentang nama " Warkop dan Starbak". Sebenarnya ini hanya tentang selera, karena kepuasan lidah yang berbeda. Lidah yang ingin mengungkap rasa manis ataupun pahitnya suasanya.

Perbedaan nama dan tempat, tak bisa mewakili makna dari "Ngopi". Baik itu di sudut jalan tengah kota atapun di pojok mall yang berkaca, tetap saja kita mampu asyik bercengkrama. Baik dengan sanak saudara, tetangga, kawan lama ataupun lawan kita. Suasana yang ditawarkan dari sebuah ajakan untuk ngopi sebernarnya sangatlah bervariasi. Entah itu bermakna ajakan belaka ataukah ada segudang maksud yang diselipkan. Namun hasrat untuk ngopi tetap saja tak bisa diawali dengan berburuk sangka terlebih dahulu.

Ada sedikit aroma yang khas dari secangkir kopi yang ditawarkan. Tawaran secangkir kopi mampu membentuk majlis-majlis kecil yang berisi beberapa orang, tiga hingga sebelas orang. Satu sebagai pembawa alur cerita dan lainya sebagai pendebat cerita. Semua luruh menjadi satu, Mulai dari Gurau yang berkelas, tawa renyah yang pas, Dan Lara duka yang melepas puas terjadi disana. Beban-beban kehidupan yang tak ada obatnya, seolah-olah berguguran satu-persatu. Bahkan perasaan-perasaan para pemuda penggiat cerita cinta tercurah semua dengan hanya secangkir kopi.

Tak hanya itu, ngopi pun mampu melepaskan kejenuhan dalam ke-istiqomahan. Membentuk rasa sabar dalam cerita keseharian yang membosakan. Tak dipungkiri bahwa dari hasil diskusi di warung kopi mampu memberikan kontribusi untuk mengubah negeri. Jika itu terlalu tinggi, setidakya mampu mengubah diri sendiri. Pemikiran cerdas yang tak sengaja pun dapat terlahir disana. Diawali dengan bercerita tentang pribadi diri sendiri dan ungkapan perasaan keseharian, menjadi salah satu metode mengawali ngopi. Tak jarang pula diskusi klasik yang menjadi problematika keseharian dan sosial, selalu saja tak sengaja menjadi bahasan meskipun dengan indikasi "Ngarasani" Teman.

Seruputan pertama adalah cara untuk membuka bahasan, seruputan kedua dan seterusnya adalah cara untuk mendapat hasil dari diskusi yang disajikan. materi tentang perbedaan pendapat selalu saja menarik untuk menjadi bahasan. Terlebih mengenai radikalise dan liberal dalam berpendapat. Sudah barang pasti menjadi moderat adalah pemenang diantara keduanya, Meskipun kita perlu mensepakati sesuatu yang tidak disepakati dari kedua belah pihak. Tak ada standar yang ditawarkan dari suatu kebenaran kecuali kesepakatan hasil dari diskusi bersama. Kebenaran tak pernah bisa kita paksakan dengan standar diri sendiri (perorangan) yang kita sendiri tak mengetahui siapa sebenarnya diri ini. Itulah mengapa, berkaca pada sejarah adalah cara untuk merefleksi permasalahan di masa sekarang demi mensepakati menjadi suatu kebatilan ataukah kebenaran. Bisa dipastikan semua akan kalah dengan sejarah, karena hal yang terjadi saat ini tak ubahnya merupakan hasil dari pemikiran dan diskusi yang disepakati pada tahun silam. Ujungnya sudah pasti bisa kita tangkap, semua akan damai bersepakat hanya dengan secangkir kopi pada tegukan terakir. Meskipun setelah ngopi tak bisa kita ketahui akan bersebrangan kembali ataukah tidak.

Diskusi dengan cara ngopi ataukah ngopi sambil berdiskusi adalah tradisi yang membumi. Tak ada permasalahan yang diselesaikan dengan cara bertengkar disana, tak ada pula dendam yang mengakar setelah problem ini dan itu di diskusikan dengan secangkir kopi. Tak ada pula saling tunjuk dan tonjok menyalahkan sisi lain yang berbeda pendapat kecuali memang belum mengetahui alasan yang sangat tepat.

Ngopi tak hanya bisa dilakukan di warung kopi ataukah keadai sejenisnya. Cukup dengan air panas dengan racikan gula dan kopi sesuai selera akan mampu menjadi pembuka diskusi ataupun menjadi teman untuk menyendiri. Lebih nikmat jika dihidangkan oleh sang istri ataukah pujaan hati (maaf, salah tulis ). Ngopi dan diskusi seolah tak bisa dipisahkan, Selalu saja ada kepahitan yang manis dari seduhan secangkir kopi yang dituang di tengah kebersamaan.

Jika adik sedang menyendiri, Mungkin akang hanya bisa berucap "Minta tolong seduhkan secangkir kopi ya dik, ayo kita diskusi tentang masa depan". hehe


Sgt
PPDS, 31/03/2016
#GUYU(B) SANTRI #Opini campuran

 

We are featured contributor on entrepreneurship for many trusted business sites:

  • Copyright © CakSugit Note'S 2015
    Distributed By My Blogger Themes | Designed By Triyono Sugit